Sabtu, 19 April 2014

Slide Observasi Kelompok 11


Slide observasi kel.11 from MAIMUNAHAZZAHRAH


Kelompok 11 :
Ketua : Novemina Angelita 131301028 http://13028na.blogspot.com
Anggota :
Maimunah 131301018 http://13018mm.blogspot.com
Siti Khalida Ilmi 131301062  http://13062ilmidl.blogspot.com
Indri Diani 131301128 http://13128id.blogspot.com
 

Evaluasi Observasi ke Sekolah




Kelompok 11 :
Ketua : Novemina Angelita 131301028 http://13028na.blogspot.com/
Anggota :
Maimunah 131301018 http://13018mm.blogspot.com
Siti Khalida Ilmi 131301062  http://13062ilmidl.blogspot.com
Indri Diani 131301128 http://13128id.blogspot.com

C. Evaluasi dan Laporan
1. Evaluasi
      a. proses pelaksanaan observasi
Pada tanggal 27 Maret 2014 pukul 07:00 WIB Novemina angelita ketua kelompok 11 bersama Dessy awalia ketua kelompok 13 pergi mencari sekolah yg akan kami observasi, kami merencanakan untuk mengobservasi bersama pada satu sekolah namun berbeda tingkatan kelasnya, dengan berbekal keberanian, KTM dan lafazh basmallah kami pergi ke sekolah SDN 068083 Medan di jalan kemuning Tj.rejo untuk menghadap kepala sekolah SDN 068083 Medan , dan Alhamdulillah kami bisa bertemu langsung dengan ibu kepala sekolah, kami mulai dengan perkenalan dan menjelaskan maksud kedatangan kami  lalu kami meminta izin agar pada tanggal 28 Maret 2014 kami sudah dapat melakukan observasi, kami juga menjelaskan bahwa surat izin observasi kami sedang dalam pengurusan, dan Alhamdulillah ibu kepala sekolah mengizinkan kami untuk dapat melakukan observasi pada tanggal 28 Maret 2014 dan meminta agar surat izinnya dapat diserahkan secepatnya.
Pada tanggal 28 Maret 2014 pukul 07:30 kami kelompok 11 berkumpul di SDN 068083 untuk segera melaksanakan observasi, sebelum kami melakukan observasi kami melapor terlebih dahulu kapada guru yg akan mengajar di kelas yg akan kami observasi yaitu kelas 1, kami menjelaskan bahwa kami akan merekam dinamika pembelajaran antara siswa dengan guru. Dan setelah mendapat izin kami langsung memulai mengobservasi kelas 1 SDN 068083 dengan merekam aktivitas di dalam kelas.
Observasi kami lakukan dengan menganalisis berdasarkan teori belajar yang relevan dan teori perkembangan pada middle childhood karna observasi ini kami lakukan pada siswa dasar kelas 1.
      Berikut pembagian tugas observasi kelompok 11:
-          Meminta izin pihak sekolah (Novemina angelita 13-028)
-          Merekam interaksi siswa dan guru (Novemina angelita 13-028)
-          Mengambil foto fasilitas sekolah (Maimunah 13-018 dan Indri Diani 13-128)
-          Mencatat hasil observasi (Siti khalida Ilmi Daulay 13-062 dan Indri Diani 13-128
-           Membuat laporan observasi :
       (Maimunah 13-018, Novemina angelita 13-028 dan Siti khalida Ilmi 13-062)
-          Menyusun hasil dokumentasi (Indri Diani 13-128)
-          Menyusun slide laporan observasi (Novemina angelita 13-028 dan Maimunah 13-018)
-          Membuat evaluasi hasil observasi 
      (Novemina angelita 13-028, Maimunah 13-018, Siti khalida ilmi 13-062 dan Indri diani 13-128)

Sebelum mengobservasi, kita harus mengetahui bagaimana cara mengajar yang efektif,  karna mengajar adalah hal yang kompleks maka guru harus menguasai beragam perspektif serta strategi, dan mengaplikasikannya dengan fleksibel.
 Ada 2 hal yang harus dimiliki oleh guru :
1.      pengetahuan dan keahlian professional
maksudnya adalah seorang guru harus menguasai materi pelajaran dan keahlian/keterampilan dalam mengajar, guru harus mengetahui bagaimana cara berkomunikasi dan memotivasi murid-murid yang beragam budaya nya.
2.      komitmen dan motivasi
komitmen dan motivasi ini dibutuhkan oleh guru agar dapat melewati masa-masa sulit dan melelahkan dalam mengajar, guru yg efektif memiliki kepercayaan diri terhadap kemampuannya sendiri sehingga tidak akan membiarkan emosi negative melemahkan motivasinya.

Teori perkembangan
-          perkembangan kognitif : Operational Kongkrit (711), penggunaan logika yang memadai. Tahap ini telah memahami operasi logis dengan bantuan benda konkrit.kami akan menganalisis berdasarkan periode perkembangan, yaitu pada middle childhood (masa sekolah dasar) di mulai dari usia 6 tahun sampai 11 tahun, pada tahap ini anak mulai menguasai keahlian membaca, menulis, dan menghitung. Prestasi menjadi tema utama dari kehidupan anak dan mereka semakin mampu mengendalikan diri, ini dapat terlihat ketika ibu guru memberikan tugas lalu mereka mengerjakan di buku tulis, ketika ibu guru mengatakan “siapa yang bisa menulis kata menyapu di papan tulis ibu kasih nilai 100” lalu mereka semua berteriak dan mengacungkan tangan keatas sambil berlari menuju meja guru, mereka berebut untuk bisa menuliskan nya di papan tulis dan mendapat nilai 100, lalu ibu guru mengintruksikan siapa yang duduk rapi, dia yang boleh menuliskannya kedepan, dan mereka pun berebut untuk duduk yg rapi, ini membuktikan bahwa pada tahap ini prestasi memang menjadi tema utama dari kehidupannya dan mereka mampu mengendalikan diri. Di periode ini mereka berinteraksi dengan dunia social yang lebih luas di luar keluarganya.
-          Periode perkembangan emosional yaitu masa transisi dari early childhood ke middle childhood: saat anak menjalani transisi ke sekolah dasar, mereka akan berinteraksi dan mengembangkan hubungan dengan teman-teman di lingkungan barunya, dan lingkungan nya itu akan membentuk pemahaman tentang diri mereka.
-          Perkembangan psikososial
Hal tersebut berkaitan dengan perkembangan dan perubahan emosi individu. J. Havighurst mengemukakan bahwa setiap perkembangan individu harus sejalan dengan perkembangan aspek lain seperti di antaranya adalah aspek psikis, moral dan sosial. Menjelang masuk SD, anak telah Mengembangkan keterampilan berpikir bertindak dan pengaruh sosial yang lebih kompleks. Sampai dengan masa ini, anak pada dasarnya egosentris (berpusat pada diri sendiri) dan dunia mereka adalah rumah keluarga, dan taman kanakkanaknya.
Pendidikan yang sesuai secara perkembangan, yaitu pendidikan yang didasarkan pada pengetahuan perkembangan khas dari anak-anak dalam rentang usia dan keunikan anak. Pengetahuan ini dapat di jadikan pedoman bagi guru dalam mempersiapkan lingkungan belajar, anak-anak akan berkembang dengan sangat baik jika mereka merasa aman secara psikologis. Perkembangan anak juga akan meningkat ketika dia diberikan kesempatan untuk mempraktikkan keahlian baru dan merasakan tantangan diluar kemampuan mereka saat itu, dalam hal ini diharapkan orang-orang dewasa yang berada disekitarnya memberikan dorongan kepada anak agar mau belajar dan tidak menyerah karna anak-anak adalah pembelajar yang aktif dan harus didorong untuk membangun pemahaman dunia di sekitarnya.
Teori belajar
Pembelajaran adalahpengaruh permanen atas perilaku, pengetehuan, dan keterampilan berpikir yang diperoleh dari pengalaman.
-          Behavior
perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang dapat diobservasi, pandangan behavioral ini merupakan pembelajaran asosiatif,  yang dapat kami observasi di dalam kelas 1 SD :
1.      Operant Conditioning
Bentuk pembelajaran dengan konsekuensi-konsekuensi yang memungkin kan perilaku untuk di ulangi atau di hapuskan.
Contoh ; murid menjawab pertanyaan dari guru dengan benar, guru memberikan nilai 100 sehingga murid merasa senang dan termotivasi untuk menjawab dengan benar lagi.
-          Modelling
Bentuk pembelajaran dengan cara mengamati, lalu menirukan perilaku.
Contoh: guru membacakan kalimat yang ada di dalam buku bahasa Indonesia, murid menirukan kalimat tersebut.

b. Evaluasi hasil observasi di kelas

 1. Di kelas
 interaksi/ komunikasi antara murid dan guru berjalan dengan baik sehingga proses pembelajaran juga berjalan dengan baik. Cara berbicara guru keras dan jelas untuk dapat menarik perhatian murid-murid.
2. Setting ruangan kelas
Tata letak ruang sama seperti sekolah lain pada umumnya, di dalamnya terdapat alat-alat belajar seperti black-white board, lemari buku, meja dan kursi, alat-alat tulis seperti spidol dan kapur, serta terdapat hiasan dinding seperti peta, gambar pahlawan, foto presiden dan wakilnya
3.Setting lokasi sekolah
Jumlah ruangan ada 6, dipakai untuk kelas pagi dan siang. Halaman sekolahnya kecil karna halaman sekolah nya dibagi 2 dengan sekolah SDN yang ada tepat di depan SDN 068083.
Karakteristik Anak SD
1. Karakteristik anak usia SD adalah senang bermain, senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok, serta senang merasakan/ melakukan sesuatu secara langsung. Oleh karena itu, guru hendaknya mengembangkan pembelajaran yang mengandung unsur permainan, memungkinkan siswa berpindah atau bergerak dan bekerja atau belajar dalam kelompok, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam pembelajaran.
a. Anak SD Senang Bermain.
Karakteristik ini menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang bermuatan permainan lebih – lebih untuk kelas rendah.Guru SD seyogyanya merancang model pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan di dalamnya. Guru hendaknya mengembangkan model pengajaran yang serius tapi santai. Penyusunan jadwal pelajaran hendaknya diselang saling antara mata pelajaran serius seperti IPA, Matematika, dengan pelajaran yang mengandung unsur permainan seperti pendidikan jasmani, atau Seni Budaya dan Keterampilan (SBK).
b.  Anak SD Senang Bergerak.                                                                       
Orang dewasa dapat duduk berjamjam, sedangkan anak SD dapat duduk dengan tenang paling lama sekitar 30 menit.Oleh karena itu, guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak.Menyuruh anak untuk duduk rapi untuk jangka waktu yang lama, dirasakan anak sebagai siksaan.
c.  Anak usia SD Senang Bekerja dalam Kelompok.
Anak usia SD dalam pergaulannya dengan kelompok sebaya, mereka belajar aspek-aspek yang penting dalam proses sosialisasi, seperti: belajar memenuhi aturan-aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya dilingkungan, belajar menerimanya tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif), mempelajarai olah raga dan membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok, serta belajar keadilan dan demokrasi. Karakteristik ini membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok. Guru dapat meminta siswa untuk membentuk kelompok kecil dengan anggota 34 orang untuk mempelajari atau menyelesaikan suatu tugas secara kelompok.
d. Anak SD Senang Merasakan atau Melakukan/memperagakan Sesuatu Secara
Langsung.
Ditunjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasional konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep-konsep baru dengan konsepkonsep lama. Bagi anak SD, penjelasan guru tentang materi pelajaran akan lebih dipahami jika anak melaksanakan sendiri (membuat contoh-contoh yg sesuai dengan pengalamannya), sama halnya dengan memberi contoh bagi orang dewasa. Dengan demikian guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh anak akan lebih memahami tentang arah mata angin, dengan cara membawa anak langsung keluar kelas, kemudian menunjuk langsung setiap arah angin, bahkan dengan sedikit menjulurkan lidah akan diketahui secara persis dari arah mana angina saat itu bertiup.
Kesimpulan Observasi :
Dari hasil observasi yang kami lakukan di kelas 1 SD 068083 dapat kami simpulkan bahwa metode pembelajaran yang di terapkan sudah sesuai pada perkembangan anak, seperti metode pembelajaran operant conditioning dan modeling.
Demikian evaluasi hasil observasi psikologi pendidikan kelompok 11, kami sangat berterimakasih kepada ibu S.Nasution, SPdi  selaku kepala sekolah dan ibu wali kelas 1 SDN 068083 Medan yang telah mengizinkan kami melakukan observasi dalam rangka pemenuhan tugas mata kuliah psikologi pendidikan. Terimakasih atas perhatiannya, semoga hasil observasi ini dapat meningkatkan pemahaman kita tentang psikologi pendidikan.
sumber tulisan:
jurnal psikologi perkembangan middle childhood (karakteristik siswa SD.pdf) oleh sugiyanto
Buku psikologi pendidikan edisi kedua John W. Santrock
Kelompok 11 :
Ketua : Novemina Angelita 131301028 http://13028na.blogspot.com
Anggota :
Maimunah 131301018 http://13018mm.blogspot.com
Siti Khalida Ilmi 131301062 http://13062ilmidl.blogspot.com
Indri Diani 131301128 http://13128id.blogspot.com

Senin, 24 Maret 2014

Pengalaman Masa Kecil memakai Teori Vygotsky


Assalamualaikum
Saya Maimunah dari kelompok 11
            Ketua  : Novemina Angelita              : 13-028
            Anggota : Maimunah                          : 13-018
                            Siti Khalida Ilmi Daulay     : 13-
                             Indriani                              : 13-

*Pengalaman Masa Kecil memakai Teori Vygotsky

Saya mau berbagi cerita pengalaman masa kecilku dulu memakai teori nya Vygotsky, salah satu ide Vygotsky adalah konsepnya mengenai zone of proximal development. Nah sebelum saya ceritakan pengalaman saya kita harus tau dulu apa itu zone of proximal development. Zone of proximal development  adalah serangkaian tugas yang terlalu sulit dikuasai anak secara sendirian tetapi dapat dipelajari dengan bantuan orang dewasa atau anak yang lebih mampu.
 Jadi pengalaman masa kecilku saat itu usiaku sekitar 6 tahun.  Yang dalam tahap Piage adalah tahap pra operasional.Saat itu aku baru duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 1.  Dan masa masa itulah aku sering bermain sekolah-sekolahan dengan kakakku yang baru kelas 5 SD. Jadi kakakku menjadi guru dan aku menjadi murid. Nah kakakku yang berperan menjadi guru selalu mengajariku dan memanduku mengenal huruf huruf alphabet.  Dirumah itu setiap sore sepulang dari sekolah kakakku selalu membawa kapur tulis dari sekolah. Dinding rumah kamipun dijadikan untuk papan tulis. Awalnya saat itu aku memang belum mengerti sama sekali mengenai apa itu huruf alphabet dan cara penulisannya. Tapi dengan interaksi yang baik antara aku dan kakakku lama kelamaan aku menjadi tau sendiri. Apalagi kakakku setelah membimbing dan mengajariku, ia menyuruku menuliskan dan memecahkan permasalahan itu sendiri dan sampai saat ini aku masih ingat kejadian itu, ternyata sekarang saya sadar konsep yang diberikan kakakku yang padahal ia masih Sekolah Dasar adalah konsep dari Vygotsky yaitu zone of proximal development.
Nah setelah konsep Vygotsky mengenai zone of proximal development ada juga yang namanya scaffolding. Scaffolding ini masih erat kaitannya dengan zone  of proximal development. Jadi scaffolding itu adalah teknik untuk mengubah level bantuan untuk belajar. Nah selama sesi pengajaran pada teknik ini orang yang lebih ahli menyesuaikan level bimbingannya dengan level kinerja  anak yang diajarkan sesuai dengan yang telah dicapai.
Cerita pengalaman waktu kecilku dulu adalah ketika aku baru belajar naik sepeda masih terlintas diingatanku saat itu yang mengajariku juga kakakku. Memakai sepeda bekas kakakku mula-mula aku diajarkan naik sepeda dengan dipandu oleh kakakku yang memegangkan sepeda itu sambil membawaku mengelilingi kampung. Pertamanya aku diajari cara mengendalikan sepeda, kakakku mula-mula masih memegang setang diatas tanganku, tapi lama kelamaan setelah aku bisa kakakku membiarkan aku mengendalikan setang sepeda itu sendiri. Proses belajar menaiki sepeda bertahap setelah aku tau cara mengendalikan aku diajarkan menggoes sepeda. Masih dalam panduan kakakku dan masih dalam pegangan erat tangan kakakku aku mulai mengayuh sepeda itu.  Setelah aku sudah pintar mengayuh sepeda dan menyetang, kakakku secara perlahan melepaskanku dan membiarkanku menaiki sepeda itu sendirian. Dan akhirnya aku pun bisa mengayuh sepeda.
Nah ternyata hal kecil yang kami alami waktu kecil dulu juga merupakan ide Vygotsky yang merupakan konsep scaffolding jadi kakakku sebagai orang yang bisa dikatakan ahli dalam bersepeda membimbingku dengan  memberikan instruksi langsung kepadaku dan semangkin aku mulai tau kakakku pun mengurangi instruksinya.
Dari seorang kakak aku bermain sambil belajar banyak hal yang kami lakukan yang tanpa sadar semua itu merupakan teori yang telah dikemukakan oleh seorang Vygotsky.


*ini ceritaku  apa cerita mu.
Terimakasih yang sudah membaca.

Rabu, 12 Maret 2014

Psikologi Pendidikan & Teknologi


 *Assalamualaikum wr.wb
Sedikit disini saya akan mengulas mengenai Psikologi Pendidikan dan  Teknologi yang mana pada pembahasan ini mengenai semua pandangan dan analisis saya yang menunjukan psikologi pendidikan dengan bidang teknologi.
Psikologi Pendidikan dan Teknologi
Sebelum kita mengulas mengenai teknologi kita  harus tau dulu apa itu psikologi pendidikan dan teknologi. Jadi  Psikologi Pendidikan adalah Cabang ilmu Psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan. Sementara Teknologi adalah tema penting dalam pendidikan.
Seiring dengan perkembangan zaman teknologi pun semangkin berevolusi, yang kita ketahui saat ini kita telah hidup di dunia yang jauh berbeda di masa orang tua kita masih menjadi murid, jika murid ingin siap kerja, teknologi harus menjadi bagian integral dari sekolah dan pelajaran dikelas.
Nah revolusi teknologi yaitu bagian dari masyarakat informasi dimana kita hidup. Teknologi telah menjadi bagian dari sekolah beberapa dekade, yang dulunya teknologi ini sangat sederhana dan berjalan dengan lamban namun kini teknologi berubah secara dramatis. Pandangan saya mengenai perubahan teknologi yang pesat ini khusus nya dalam dunia pendidikan. Menurut saya teknologi memiliki peran yang memang sangat penting dalam dunia pendidikan. Itu pun tergantung bagaimana teknologi itu digunakan.  Yang jadi pertanyaannya apakah dengan teknologi memang bisa menjadikan mutu pendidikan menjadi meningkat?, saya rasa tidak juga karena guru yang berkualitaslah yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan karena guru yang berkualitas akan membuat murid juga berkulitas, namun saya juga tidak bisa mempeungkiri bahwasanya teknologi juga sangat membantu dalam dunia pendidikan. Misalnya saja dengan internet, internet yaitu inti dari komunikasi melalui komputer. Sistem internet berisi ribuan jaringan komputer yang terhubung diseluruh dunia, menyediakan informasi yang tak terhingga yang dapat diakses oleh murid. Jadi dengan adanya teknologi yang secanggih ini murid akan lebih muda mencari apa yang tidak ia ketahui hanya dengan menulis yang dicari maka akan langsung didapatkan.
Menurut saya pribadi teknologi dapat digunakan, tetapi hanya akan betul bermanfaat setelah Ilmu Teknologi Pendidikan dan cara menggunakan teknologi di bidang pendidikan sudah dipahami oleh manajemen pendidikan kita maupun guru.
Kenapa seperti itu ?Ini dikarenakan tidak semua sekolah memandang teknologi ini sebagai suatu hal yang mempunyai peranan positif contoh nya saja ada sekolah yang masih menganggap ponsel masih tabu digunakan di sekolah, sehingga apabila seorang guru melihat siswa memakai ponsel, akan langsung disita, kenyataan ini berarti bahwa pembelajaran di sekolah belum di revolusionerkan secara teknologis. Hanya ketika sekolah punya guru yang terlatih secara teknologislah, maka revolusi teknologi akan benar benar mengubah sekolah sekolah dan diharapkan dengan penggunaan teknologi secara tepat guna akan lebih meningkatkan kualitas pendidikan khusus nya di negara Indonesia.
*kesan
Sebagai seorang mahasiswi di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara, saya sangat merasakan dampak yang sangat positif dari perkembangan teknologi karena pada dasar nya banyak hal hal yang saya lakukan pasti tidak lepas kaitan nya dengan teknologi, selain internet, email, juga blog semua saya pergunakan kearah yang positif selain untuk mencari tugas, juga dengan blog saya juga dapat menghemat penggunaan kertas intinya kesan saya mengenai teknologi dalam pendidikan yaitu membuat segala urusan yang sulit menjadi lebi muda. Dan saya sekarang lebih mengerti bagaimana teknologi itu seharusnya digunakan.

*salam super !!! terima kasih J

Jumat, 28 Februari 2014

Psikologi Pendidikan

Sedikit mengulas kembali materi yang dipelajari pada pertemuan pertama  mengenai

PSIKOLOGI PENDIDIKAN: Perangkat untuk Mengajar Secara Efektif

 Psikologi adalah studi ilmiah tentang prilaku dan proses mental. Psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan. Nah, dari pengertian psikologi pendidikan ada dua kata yang harus kita ketahui mengenai masing-masing makna dari kata pengajaran dan pembelajaran. jadi pengajaran itu adalah proses pendidikan yang sebelumnya direncanakan dan diarahkan untuk mencapai tujuan serta dirancang untuk mempermudah belajar. Sedangkan pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkunag belajar.
 Jika diatas sudah dibahas mengenai definisi sekarang kita lanjutkan mengenai "Latar Belakang Historis"
Bidang psikologi pendidikan didirikan oleh beberapa perintis bidang psikologi sebelum awal abad ke-20. Ada tiga perintis terkemuka diawal sejarah psikologi pendidikan,

>William James

 James mengatakan bahwa eksperimen psikologi di laboratorium sering kali tidak bisa menjelaskan kepada kita bagaimana mengajar anak secara efektif. Dia menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar dan mengajar dikelas guna meningkatkan mutu pendidikan.
>Jhon Dewey
Jhon Dewey menjadi motor penggerak untuk mengaplikasikan psikologi ditingkat praktis.
ide-ide penting Dewey diantaranya yaitu:
*anak sebagai pembelajar aktif (active learner)
*fokus pendidikan seharusnya memperkuat kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya.
*semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang selayaknya.
>E.L.Thorndike
Thorndike berpendapat bahwa tugas yang penting dalam pendidikan adalah menanamkan keahlian penalaran anak.
Ada tiga bentuk kemampuan intelegensi
 *abstrak
 *mekanik yang berhubungan dengan sensori motor
 *sosial yaitu bagaimana menghadapi orang lain.

Cara Mengajar yang Efektif
1.Pengetahuan dan Keahlian Profesional
guru yang efektif harus memiliki metode pengajaran yang baik
    *Penguasaan materi pelajaran,*Strategi pengajaran, *Penetapan Tujuan dan keahlian Perencanaan Instruksional. nah disini penting bagi seorang guru mengetahui tujuan apa yang ingin dicapai. *Keahlian manajemen kelas bagaimana membuat anak-anak tertarik. *Keahlian motivasional, *Keahlian komunikasi,*Bekerja secara efektif antara guru dan murid dari latar belakang kultural yang berbeda, *keahlian teknologi.
2.Komitmen dan Motivasi

RISET DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN
  *Metode Riset
1. Riset Deskriptif adalah riset yang bertujuan mengamati dan mencatat prilaku.
langkah-langkah observasi:* merumuskan masalah, *mengumpulkan informasi atau data, *menarik kesimpulan, *merevisi kesimpulan riset dan teori.
observasi bisa dilakukan dilaboratorim dan dilingkungan alam.
wawancara dan kuesioner bisa saja cara paling tepat dengan memberikan pertanyaan untuk memperoleh informasi dari murid.
2.Riset Korelasional
Tujuan dari riset ini adalah mendeskripsikan dua atau lebih hubungan antara dua atau lebih kejadian atau karakteristik.
3.Riset Eksperimental
dapat menentukan sebab akibat
eksperimen menggunakan satu variabel independen dan dependen. Dalam eksperimen variabel independen terdiri dari pengalaman-pengalaman yang berbeda yang diberikan kepada satu atau lebih kelompokyang pengalamannya dimanipulasi.
kelompok eksperimental kelompok yang pengalamanya dimanipulasi dalam eksperimen.kelompok kontrol dalam sebuah eksperimem ini adalah kelompok yang diperlakukan sama dengan kelompok eksperimental kecuali dalam hal faktor-faktor yang dimanipulasi.
Rentang Waktu Riset
 *Cross-sectional yaitu riset dimana data dikumpulkan dalam satu waktu
 *Longitudinal yaitu riset dimana individu yang sama dipelajari selama kurun waktu tertentu, biasanya beberapa tahun atau lebih.
Riset Evaluasi Program, Riset Aksi, dan Guru sebagai periset
 *Riset evaluasi program yaitu riset yang di desain untuk membuat keputusan tentang efektivitas suatu program tertentu
 *Riset aksi yaitu riset yang dipakai untuk memecahkan problem sekolah atau kelas tertentu,meningkatkan pengajaran dan strategi pendidikan lainnya, atau untuk membuat keputusan dilevel tertentu.
 *Riset guru sebagai periset yaitu konsep yang menyatakan bahwa guru kelas dapat melakukan riset sendiriuntuk meningkatkan mutu praktik pengajaran mereka.
Tantangan Riset ada dua macam yaitu etika dan gender.

Referensi
Santrock, John W. 2007 . Psikologi Pendidikan Edisi Kedua. Jakarta : Prenada Media Group.
Terimakasih yang sudah baca :) semoga bermanfaat ya,,,,