Jumat, 20 Juni 2014

Kisah Inspirasi

 hai semuanya ini saya mau berbagi bacaan yang menginspirasi saya yang saya ambil dari liputan6.com sekedar info nih kisah yang menginspirasi ini datang dari salah satu anak bidikmisi lohh... semoga menginspirasi untuk semua anak bidikmisi dan mahasiswa lainya khusus nya saya sendiri semoga mangkin berprestasi AMIIIIIIN selamat membaca :)

 

Kisah Raeni si Anak Tukang Becak Kejar Ilmu Hingga Inggris

Raeni, wisudawati ber-IPK 3,96 dan ayahnya Mugiyono. (Unnes.ac.id/Humas/Lintang Hakim)
Liputan6.com, Jakarta - Oleh: Silvanus Alvin, Edhie Prayitno Ige, Tanti Yulianingsih, Mevi Linawati
Raut wajah Mugiyono berseri-seri tak kuasa menahan senyum yang menampilkan deretan giginya yang putih. Dia bersemangat mengayuh becaknya mengantar gadis manis yang berdandan rapi dan memakai toga wisuda. Maklum, gadis yang menumpang becaknya adalah putri bungsunya.
Raeni, namanya. Penerima beasiswa Bidik Misi yang mengambil Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu, berangkat ke lokasi wisuda dari indekosnya diantar ayahnya dengan becak.
Raeni dan ayahnya langsung menjadi perhatian para keluarga wisudawan dan puluhan wartawan Selasa 10 Juni 2014 kemarin. Kendati demikian, senyum bangga tetap menghiasi wajah Raeni, juga sang bapak.
Ayah Raeni memang bekerja sebagai tukang becak, yang setiap hari mangkal tak jauh dari rumahnya di Kelurahan Langenharjo, Kendal.
Pekerjaan itu dilakoni Mugiyono, setelah ia berhenti sebagai karyawan di pabrik kayu lapis. Sebagai tukang becak, penghasilannya tak menentu. Sekitar Rp 10-Rp 50 ribu per hari. Karena itu, ia juga bekerja sebagai penjaga malam sebuah sekolah dengan gaji Rp 450 ribu per bulan.
Meski dari keluarga kurang mampu, Raeni berkali-kali membuktikan keunggulan dan prestasinya. Dia beberapa kali memperoleh indeks prestasi 4. Sempurna!
Prestasi itu dipertahankan hingga ia lulus, sehingga ia ditetapkan sebagai wisudawati terbaik dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,96.
Raeni juga menunjukkan tekad baja, agar bisa menikmati masa depan yang lebih baik dan membahagiakan keluarganya. "Selepas lulus sarjana, saya ingin melanjutkan kuliah lagi. Pengin-nya melanjutkan (kuliah) ke Inggris. Ya, kalau ada beasiswa lagi," kata gadis yang bercita-cita menjadi guru tersebut.
Tentu saja cita-cita itu didukung sang ayahanda. Mugiyono mendukung putri bungsunya itu untuk berkuliah, agar bisa menjadi guru sesuai cita-citanya.
"Sebagai orangtua hanya bisa mendukung. Saya rela mengajukan pensiun dini dari perusahaan kayu lapis agar mendapatkan pesangon," kata pria yang mulai menggenjot becak sejak 2010 itu.
Rektor Unnes Fathur Rokhman mengatakan, apa yang dilakukan Raeni membuktikan tidak ada halangan bagi anak dari keluarga kurang mampu untuk bisa berkuliah dan berprestasi.
"Meski berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang kurang, Raeni tetap bersemangat dan mampu menunjukkan prestasinya. Sampai saat ini Unnes menyediakan 26% dari jumlah kursi yang dimilikinya, untuk mahasiswa dari keluarga tidak mampu. Kami sangat bangga dengan apa yang diraih Raeni," kata Fathur.
Ubah Minder Jadi Prestasi
Semangat dan kecerdasan Raeni membuat banyak orang berdecak kagum. Namun demikian, dia mengaku sempat minder karena pekerjaan ayahnya sebagai pengayuh becak.
"Dulu pernah minder orangtua tukang becak. Tapi, kenapa minder? Beliau orangtua saya, mendidik saya, meski tidak memberi biaya hidup banyak (saat kuliah), tapi mendukung saya. Saya sangat bangga," katanya.
Selama kuliah, ia dikenal cerdas dan disiplin. Bahkan, berkali-kali menjuarai lomba dan memperoleh hadiah uang tunai, yang sebagian disisihkan untuk diberikan kepada orangtuanya, Mugiyono dan Sujamah.
Gadis kelahiran 13 Januari 1993 itu juga sangat aktif di kampus, antara lain dengan menjadi Tenaga Laboratorium Asistenship Pendidikan Akuntansi FE Unnes dan Tenaga Laboratorium Asistenship Jurusan Pendidikan Ekonomi FE Unnes. Nilai 4 dalam IPK-nya seakan menjadi rutinitas sejak masuk kuliah. Menurut Raeni, manajemen waktu menjadi kunci suksesnya.
Putri kedua pasangan Mugiyono dan Sujamah selalu mendapat IPK cumlaude selama menimba ilmu. Raeni mengaku sangat mengatur waktu belajarnya bahkan ketika jeda pergantian jam mata kuliah.
"Kadang kalau ada materi yang belum dimengerti saya menghubungi dosen saat jeda jam kuliah. Jadi nantinya tidak hanya mendapat nilai saja tapi benar-benar mengerti," ungkap Raeni.
Meski belajar dan mengerjakan tugas menjadi prioritas saat kuliah, ia tetap menjaga komunikasinya dengan teman-teman. "Kalau jeda kuliah saya juga interaksi dengan teman, update info juga," kata saat ditemui di rumah kosnya, Jalan Kalimasada nomor 24, Semarang.
Penerima beasiswa Bidikmisi itu tidak hanya disiplin dalam hal akademik. Di kehidupan sehari-harinya di kos, Raeni tetap dikenal sebagai sosok disiplin oleh penghuni dan ibu kos. Ia selalu berusaha menjalankan salat berjamaah di Masjid, seperti yang diajarkan orangtuanya.
Sejak kuliah ia nyaris tak pernah merepotkan kedua orangtua. Sejak semester 3, Raeni sudah berusaha mencari penghasilan tambahan dengan memberikan les private kepada murid SMA.
Sosok Mugiyono yang sempat membuatnya minder, ternyata mampu membentuk Raeni berdisiplin, sportif, dan hidup sederhana.
Nama Raeni sudah sampai ke telinga Anies Baswedan. Keberhasilan putri tukang becak itu membuat pelopor gerakan Indonesia Mengajar itu ingin berkomunikasi secara langsung dengan Raeni. Apalagi Raeni ingin menjadi pendidik.
"Saya sudah bicara via telepon tadi," ujar Anies di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis 12 Juni 2014.
Setelah berkomunikasi dengan Raeni, Anies baru mengetahui jika lulusan terbaik Unnes itu sudah mengikuti tes masuk Indonesia Mengajar. Bahkan, Raeni bakal menghadapi ujian wawancara.
"Dia lagi tes Indonesia Mengajar. Dia sudah lolos fase pertama. Nanti akan fase kedua, direct assessment atau wawancara," tuturnya.
Meski Raeni tengah menjadi buah bibir, namun Anies menegaskan, jalannya ujian masuk akan berlangsung objektif.
Ditawari Beasiswa ke Inggris
Kepala Humas Unnes Sucipto Hadi Purnomo mengabarkan, sejumlah perusahaan menyatakan minatnya untuk merekrut sarjana pendidikan ekonomi ini bekerja. Selain itu, sebuah foundation juga menyatakan minatnya menyeponsori gadis kelahiran Kendal ini kuliah S2 di Inggris.
Sementara itu, Rektor Unnes Fathur Rokhman di Jakarta mengabarkan, pihaknya akan memfasilitasi Raeni untuk kuliah S2 seperti cita-citanya. "Beasiswa itu kami upayakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan," katanya.
Bagi Fathur, Raeni telah memberikan pesan penting kepada kita bahwa pendidikan dapat menjadi alat memotong mata rantai kemiskinan. Pemerintah telah mengupayakan supaya anak-anak berpestasi dari keluarga tidak mampu dapat menikmati pendidikan tinggi.
"Di luar itu, yang paling penting dari diri Raeni adalah tentang pentingnya kesungguhan. Dia membuktikan kepada kita semua, kondisi keluarga yang berkekurangan tidak jadi kendala jika diiringi dengan tekad yang kuat," tandasnya. (Rmn)
(Mevi Linawati)

Jumat, 06 Juni 2014

Pedagogi dan Andragogi

Nama  : Maimunah
NIM    : 131301018

Assalamualaikum 
Akhirnya untuk yang kesian kalinya saya akan menceritakan pengalaman pengalaman saya. Kali ini berbeda karena saya akan menceritakan pengalaman saya tentang konesep andragogi dan pedagogi, nah sebelum saya menuangkan pengalaman saya, saya ingin memberikan informasi sedikit mengenai apa itu andragogi dan pedagogi, jadi Andragogi adalah proses untuk melibatkan peserta didik dewasa ke dalam suatu struktur pengalaman belajar. Sedangkan Pedagogi adalah ilmu atau seni dalam menjadi seorang guru. Istilah ini merujuk pada strategi pembelajaran atau gaya pembelajaran.
Oke baiklah selamat membaca 
Jika dilihat dari segi siswa atau pembelajar, dalam pedagogi, seingat saya ketika saya masih Sekolah Dasar bahkan sampai saya duduk dibangku Sekolah Menengah Atas, saya sangat tergantung pada guru. Guru mengasumsikan dirinya bahwa ia bertanggung jawab penuh terhadap apa yang akan diajarkan dan bagaimana mengajarkannya.Gurulah yang mengevaluasi hasil belajar. jadi saya sebagi siswa hanya menjalani apa saja yang diperintahkan dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru saya dulu, ketika saya masih berstatus sebagai seorang siswa. Namun ketika saya sudah menjadi seorang mahasiswa ini sangat jauh berbeda jadi saya dituntut untuk menjadi seorang yang mandiri. Sayalah yang mengarahkan diri saya sendiri untuk belajar apa dan bagaimana. Jadi tidak lagi bergantung pada guru atau dosen. Guru atau dosen hanyalah sebagai seorang fasilitator. Akhirnya saya sadari mengapa dosen saya selalu mengatakan “kami hanya lah seorang fasilitator”. Jadi ini yang dinamakan sebagai andragogi.
Bisa juga dilihat dari sisi peran siswa dan pengalaman belajar, dalam pedagogi, pengalaman guru yang lebih dominan. Jadi ketika saya masih menjadi seorang siswa saya hanya mengikuti aktifitas belajar, dimana saya sendiri tidak banyak mengalami sesuatu kecuali sebagai peserta pasif jadi saya hanya datang kesekolah, duduk diam dan pulang. Sedangkan andragogi,saya mengalami sesuatu secara leluasa. Pengalaman-pengalaman saya yang menjadi sumber utama seperti saya harus dituntut untuk menjadikan diri saya sebagai sumber belajar, sehingga saya harus aktif seperti yang saya lakukan ikut belajar kelompok, memecahkan masalah pembelajaran yang tidak saya ketahui dengan searching melalui internet dan menanyakan kepada teman saya.
Jika dilihat dari sisi motivasi belajar, dalam pedagogi, motivasi  itu datang dari luar, jadi begini ketika saya masih bersekolah guru saya itu selalu menyuruh dan memaksakan atau mewajibkan bahkan dituntut untuk mengikuti pendidikan yang ia ajarkan yang saya ingat salah satu nya saat ini adalah guru Bahasa Indonesia saya saat Sekolah Menengah Atas, kami selalu menyebut nya sebagai Buk TR, ialah yang selalu memaksa untuk mengikuti apa yang ia sampaikan dan ternyata ini sebuah konsep pedagogi. Berbeda sekali dengan pengalaman yang saat ini saya sedang jalani, dalam andragogi motivasi itu datang dari dalam diri saya sendiri. Jadi saya sudah tidak pernah lagi, ada yang memaksa, dan mewajibkan saya untuk belajar. jadi saya lah yang menentukan bagaimana yang terbaik untuk diri saya.
Saat ini usia saya sudah 19 tahun. dan andragogi ini sudah saya dapatkan sesuai dengan pengalaman yang saya alami saat saya berkuliah di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara,  jadi saya sudah tidak bergantung lagi pada Dosen saya, melainkan sayalah yang dituntut untuk mandiri. Salah satu nya yaitu saya selalu mencari tau sendiri pelajaran yang akan dipelajari saat perkuliahanan serta mempersentasikan sendiri materi perkuliahan tanpa ada  bergantung lagi pada seorang dosen. Jadi kami di Fakultas Psikologi USU, menurut saya menerapkan andragogi.
Eitz belum selesai saya akan menambahkan juga sedikit informasi bahwa menurut mbah Malcom Knowles (1984), dalam bukunya, “Self-directed Learning”. Andragogy memang merupakan teori orang dewasa. Oleh karena itu, orang dewasa harus diajar dengan pendekatan andragogi seperti yang sudah diterapkan oleh Fakultas Psikologi USU yang kucintai 
Sekian terimakasih yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca  jika ada kritik dan saran yang dapat membangun silahkan beri komentar yang positif ya.
#keep smile 

Kamis, 22 Mei 2014

MAKALAH PENDIDIKAN ANAK PRA SEKOLAH

hai,,,,hai,, pembaca setia yang saya cintai ini saya ada makalah mengenai pendidikan anak pra sekolah SEMOGA BERMANFAAT :)
KELOMPOK 9
•    MAIMUNAH                    131301018
•    PUTRI UTAMI OKTIAWANDHANI    131301050
•    LINDKA PERTIWI                131301068
•    SINTA MEILASTRY                131301092
•    PEBRYANTI SIMARMATA            131301102

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2014 - 2015





KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa. Karena rahmat dan petunjukNya lah kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Pendidikan Anak Prasekolah”, untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah Psikologi Perkembangan I.
Selanjutnya kami ucapkan terima kasih kepada Dosen mata kuliah Psikologi Perkembangan I, yang telah berkenan memberikan bimbingan dan arahan, terutama dalam pemberian mata kuliah Psikologi Perkembangan I.
Kami sangat menyadari dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, serta masih banyak kekurangan. Hal ini disebabkan keterbatasan ilmu pengetahuan, dan waktu yang ada.
Maka dengan kerendahan hati kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun bagi semua pihak. Semoga makalah ini menjadi tambahan ilmu pengetahuan terutama dalam rangka pengembangan Mata Kuliah Psikologi Perkembangan I.
Demikianlah yang dapat saya ungkapkan sebagai kata pengantar dan semoga  Tuhan Yang Maha Esa memberkahi makalah ini.

Medan, 24 Februari 2014
 
   Penulis
 
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR        i
DAFTAR ISI         ii
BAB 1 PENDAHULUAN         1
1.1.    Latar Belakang         1
1.2.    Rumusan Masalah         1
1.3.    Tujuan Penulisan        1
BAB II PEMBAHASAN         2
2.1.     Pengertian Anak Prasekolah        2                                 
2.2.     Ciri-ciri Anak Prasekolah         3
2.2.1. Ciri-ciri Fisik Anak Prasekolah         3
2.2.2. Ciri-ciri Sosial Anak Prasekolah         3
2.2.3. Ciri-ciri Kognitif Anak Prasekolah         5
2.2.4. Ciri-ciri Emosional         6
2.3.      Pengertian Kesiapan Belajar        7
2.3.1. Keterampilan Kunci Untuk Meningkatkan Kesiapan Sekolah        7
2.3.2. Metode Pembelajaran Untuk Mengembangkan Kesiapan Sekolah         8
2.4.      Pengertian Pendidikan Prasekolah         12
2.5.    Tujuan Prasekolah        13
2.6.    Tipe Prasekolah        15
2.7.    Transisi ke Taman Kanak-kanak         16
2.8.    Program Prasekolah Pengganti         19
2.9.    Orang Tua dan Pendidikan Prasekolah         20
BAB III PENUTUP        21
2.1    Kesimpulan         21
2.2    Saran        21
DAFTAR PUSTAKA        22


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.    Latar Belakang
Perkembangan adalah perubahan psikologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi psikis dan fisik pada diri manusia. Perkembangan merupakan perubahan ke arah kemajuan menuju terwujudnya hakekat manusia yang bermartabat atau berkualitas. Usia lahir sampai dengan pra sekolah merupakan masa keemasan sekaligus dengan masa kritis dalam tahapan kehidupan manusia yang akan menentukan perkembangan anak selanjutnya, masa ini merupakan masa yang tepat untuk meletakan dasar-dasar pengembangan fisik, bahasa, sosial, emosional, moral dan nilai-nilai agama, kognitif dan seni.
Aspek psikologi dari perkembangan antara lain aspek fisik yang termasuk di dalamnya pertumbuhan tubuh, perkembangan otak dan motorik. Aspek kognitif yang mencangkup kemampuan kognisi, kecerdasan, dan daya tangkap. Serta ada pula aspek psikososial, dimana aspek ini mencangkup di dalamnya kepribadian dan emosi individu.
Selain itu perkembangan juga memiliki beberapa faktor, yaitu faktor bawaan atau genetik, faktor lingkungan dan yang paling berpengaruh di dalam faktor lingkungan ini adalah lingkungan keluarga, dan ada juga faktor kematangan dari individu itu sendiri.

1.2.    Rumusan Masalah
            Berpijak dari latar belakang di atas, maka perumusan permasalahan yang akan penulis uraikan di dalam penulisan makalah ini yaitu :
1.    Pendidikan Anak Prasekolah
2.    Tujuan dan Tipe Prasekolah
3.    Program Prasekolah Pengganti
4.    Transisi ke Taman Kanak-kanak

1.3.    Tujuan Penulisan
            Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu:
1.    Untuk mengetahui lebih luas tentang pendidikan anak prasekolah
2.    Untuk memperoleh informasi tentang kesiapan sekolah
 
BAB II
PEMBAHASAN
   
2.1.    Pengertian Anak Prasekolah
Yang dimaksudkan dengan anak prasekolah adalah mereka yang berusia antara 3-6 tahun menurut Biechler dan Snowman (1993). Mereka biasanya mengikuti program prasekolah dan kindergarten. Sedangkan di Indonesia, umumnya mereka mengikuti program Tempat Penitipan Anak (3 bulan -5 tahun) dan Kelompok Bermain (usia3 tahun), sedangkan pada usia4-6 tahun biasanya mereka mengikuti program Taman Kanak-Kanak.
Masa prasekolah dapat merupakan masa-masa bahagia dan amat memuaskan dari seluruh masa kehidupan anak. Untuk itulah kita perlu menjaga hal tersebut berjalan sebagaimana adanya. Janganlah memaksakan sesuatu karena diri kita sendiri dan mengharapkan secara banyak dan segera, maupun mencoba untuk melakukan hal-hal yang memang mereka belum siap. Suatu hal yang tidak mudah untuk mengajari anak untuk berhitung, membaca ataupun menulis pada masa-masa pertama kehidupannya.
Masa prasekolah adalah masa pertumbuhan. Masa-masa ini adalah masa menemukan orang seperti apa anak tersebut, dan teknik apakah yang bisa cocok dalam menghadapinya. Masa prasekolah adalah masa belajar, tetapi bukan dalam dunia dua dimensi (pensil dan kertas) melainkan belajar pada dunia nyata, yaitu dunia tiga dimensi. Dengan perkataan lain, masa prasekolah merupakan time for play.
Frank dan Theresa Caplan dalam buku The Power of Play menyebutkan bahwa pada masa prasekolah yang ditekankan adalah bermain. Waktu bermain merupakan sarana pertumbuhan. Pada tahun-tahun pertama kehidupannya, anak membutuhkan bermain sebagai sarana untuk tumbuh dalam lingkungan budaya dan kesiapannya dalam belajar formal. Bermain merupakan aktivitas yang spontan dan melibatkan motivasi serta prestasi dalam diri anak yang mendalam.
Dalam dunianya, seorang anak merupakan decision maker dan play master. Dengan bermain, anak bebas beraksi dan juga mengkhayalkan sebuah dunia lain, sehingga dengan bermain ada elemen petualangan.

2.2.    Ciri-Ciri Anak Prasekolah
2.2.1.    Ciri Fisik Anak Prasekolah
Penampilan maupun gerak-gerik anak taman kanak-kanak mudah dibedakan dengan anak yang berada dalam tahapan sebelumnya. Anak prasekolah umumnya sangat aktif. Mereka telah memiliki peguasaan (control) terhadap tubuhnya, sangat meyukai kegiatan yang dilakukan sendiri. Otot-otot besar pada anak taman kanak-kanak lebih berkembang dari control jari dan tangan. Oleh karena itu, biasanya anak belum terampil dalam kegiatan yang rumit seperti mengikat tali sepatu.Anak masih sering mengalami kesulitan apabila harus memfokuskan pandangannya pada objek-objek yang kecil ukurannya, itu sebabnya koordinasi tangan dan matanya masih kurang sempurna. Walaupun tubuh anak ini lentur, tetatpi tengkorak kepala yang melindungi otak masih lunak. Oleh karena itu, hendaknya berhati-hati bila anak berkelahi dengan teman-temannya. Orang tua atau guru harus senantiasa mengawasi dengan cermat dan telaten.
2.2.2.    Ciri Sosial Anak Prasekolah
Anak prasekolah telah menyadari peran jenis kelamin dan sex typing.  Setelah anak masuk TK, umumnya pada mereka telah berkembang kesadaran terhadap perbedaan jenis kelamin dan peran sebagai anak lelaki dan anak perempuan. Kesadaran ini tampak pada pilihan terhadap alat permainan dan aktivitas bermain yang dipilih anak lelaki dan anak perempuan. Anak lelaki umumnya lebih menyukai bermain di luar, bermain kasar dan bertingkah laku agresif. Anak perempuan lebih suka bermain bersifat kesenian, bermain boneka, dan menari.
Paten (1932), mengamati tingkah laku sosial anak usia dini ketika mereka sedang bermain bebas sebagai berikut:
a.    Tingkah laku unoccupied. Anak tidak bermain dengan sesungguhnya. Ia mungkin berdiri di sekitar anak lain dan memandang temannya tanpa melakukan kegiatan apapun.
b.    Bermain soliter. Anak bermain sendiri dengan menggunakan alat permainan berbeda dengan apa yang dimainkan oleh teman yang ada di dekatnya. Mereka tidak berusaha untuk saling bicara.
c.    Tingkah laku onlooker. Anak menghabiskan waktu dengan mengamati. Kadang memberi komentar apa yang dimainkankan anak lain, tetapi tidak berusaha untuk bermain bersama.
d.    Bermain parallel. Anak bermain dengan salin berdekatan, tetapi tidak sepenhnya bermain bersama dengan anak yang lain. Mereka menggunakan alat mainan yang sama, berdekatan tetapi dengan cara yang tidak saling bergantung.
e.    Bermain asosiatif. Anak bermain dengan anak lain tetapi tanpa organisasi. Tidak ada peran tertentu, masing-masing anak bermain dengan caranya sendiri-sendiri.
f.    Bermain kooperatif. Anak bermain dalam kelompok di mana ada organisasi, ada pimpinannya. Masing-masing anak melakukan kegiatan bermain dalam kegiatan bersama, misalnya perang-perangan, sekolah-sekolahan, dan lain-lain. Sejalan dengan perkembangan kognitif anak. Piaget mengemukakan perkembangan permainan anak usia dini sebagai masa symbolic make play (berlangsung dari 2-7 tahun).
Pola Bermain
Pola bermain anak prasekolah sangat bervariasi fungsinya sesuia dengan kelas sosial dan ‘gender’. Keneth Rubin dkk (1976), melakukan pengelompokan setelah mengamati kegiatan bermain bebas anak prasekolah yang dihubungkan dengan kelas sosial dan kognitif anak, yaitu:
•    Bermain fungsional. Melakukan pengulangan gerakan-gerakan  otot dengan atau tanpa objek-objek.
•    Bermain konstruktif. Melakukan manipulasi terhadap benda-benda dalam kegiatan membuat konstruksi atau mengkreasi/ mencipatakan sesuatu.
•    Bermain dramatik, adalah dengan menggunakan situasi yang imajiner.
•    Bermain dengan mennggunakan aturan
Paten dan Rubin dkk menemukan bahawa anak-anak dari kelas ekonomi rendah lebih sering melakukan bermain yang fungsional dan bermain parallel dibandingkan dari anak yang berasal dari kelas menengah. Dari kelas menengah lebih banyak bermain asosiatif, kooperatif, dan konstruktif.
Sedangkan anak perempuan lebih banyak soliter, konstruktif-paralel, dan dramatik, dibandingkan dengan anak lelaki. Anak lelaki lebih banyak bermain fungsional-soliter dan asosiatifdramatik daripada anak perempuan.


2.2.3.    Ciri Kognitif Anak Prasekolah
Pada rentang usia 3-4 sampai 5-6 tahun, anak mulai memasuki masa prasekolah yang merupakan masa kesiapan untuk memasuki pendidikan formal yang sebenarnya di sekolah dasar. Menurut Montessori masa ini ditandai dengan masa peka terhadap segala stimulasi yang diterimanya melalui pancaindera. Masa peka memiliki arti penting bagi perkembangan setiap anak.
Piaget berpendapat bahwa, anak pada rentang usia ini, masuk dalam perkembangan berpikir praoperasional konkret. Pada saat ini sifat egosentris pada anak semakin nyata. Anak mulai memiliki perspektif yang berbeda dengan orang lainyang berbeda di sekitarnya. Orang tua sering menganggap periode ini sebagai masa sulit karena anak menjadi susah diatur, bisa disebut nakal atau bandel, suka membantah dan banyak bertanya. Anak mengembangkan keterampilan berbahasa dan menggambar, namun egois dan tak dapat mengerti penalaran abstrak atau logika.
Dalam kesempatan lain, Hurlock menyatakan bahwaanak usia 3-5 tahun adalah masa permainan. Bermain dengan benda atau alat permainadimulai sejak usia satu tahun pertama dan akan mencapai puncaknya pada usia 5-6 tahun. Menurut Piaget, usia 5-6 tahun ini merupakan praoperasional konkret. Pada tahap ini anak dapat memanipulasi objek symbol, termasuk kata-kata yang merupakan karakteristik penting dalam tahapan ini. Hal ini dinyatakan dalam peniruan yang tertunda dan dalam imajinasi pura-pura dalam bermain.
Menurut Montessori dalam Patmonodewo (2000), masa peka anak yang berada pafa usia 3,5 tahun ditandai dengan suatu keadaan di mana potensi yang menunjukkan kepekaan (sensitif) untuk berkembang. Dalam kaitan itu, menurut Dewey dalam Soejono (1960), pendidik atau orang tua harus memberikan kesempatan pada setiap anak untuk dapat melakukan sesuatu, baik secara individual maupun kelompok sehingga anak akan memperoleh pengalaman dan pengetahuan. Sekolah harus dijadikan laboratorium bekerja bagi anak-anak.
Adapun Gessel dan Amatruda, mengemukakan bahwa anak usia 3-4 tahun telah mulai mampu berbicara secara jelas dan berarti. Kalimat-kalimat yang diucapkan anak semakin baik, sehingga masa ini dinamakan masa perkembangan fungsi bicara. Selanjutnya, pada usia 4-5 tahun yaitu masa belajar matematika.

2.2.4.    Ciri Emosional Anak Prasekolah
Anak prasekolah cenderung mengekspresikan emosinya dengan bebas dan terbuka. Sikap marah sering diperlihatkan oleh anak pada usia ini. Iri hati pada anak usia dini ini sering terjadi. Mereka sering memperebutkan perhatian guru. Emosi yang tinggi pada umumnya disebabkan oleh masalah psikologisdibanding masalah fisiologis. Orang tua hanya memperbolehkan anak melakukan beberapa hal, padahal anak merasa mampu melakukan lebih banyak lagi. Hurlock mengemukakan pola-pola emosi umum pada awal masa kanak-kanak sebagai berikut:
a.    Amarah. Penyebab amarah yang paling umum ialah pertengkaran mengenai permainan, tidak tercapainya keinginan, dan serangan yang hebat dari anak lain. Anak mengungkapkan rasa marah dengan ledakan amarah yang ditandai dengan menangis, berteriak, menggertak, menendang, melompat-lompat, atau memukul.
b.    Takut. Pembiasaan, peniruan, dan ingatan tentang pengalaman yang kurang menyenangkan berperan penting dalam menimbulkan rasa takut seperti cerita-cerita,  mulanya reaksi anak terhadap rasa takut ialah panik, kemudia menjadi lebih khusus lagi seperi lari, menghindar, bersembunyi, dan menangis.
c.    Cemburu. Anak menjadi cemburu bila ia mengira bahwa minat dan perhatian orang tua beralih kepada orang lain di dalam keluarga, biasanya adik yang baru lahir. Anak yang lebih muda dapat mengungkapkan kecemburuannya secara terbuka atau menunjukkan dengan kembali berperilaku seperti anak kecil seperti mengompol, pura-pura sakit, atau menjadi nakal yang berlebihan. Perilaku ini semuanya bertujuan untuk menarik perhatian orang tuanya.
d.    Ingin tahu. Anak mempunyai rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang baru dilihatnya, juga mengenai tubuhnya sendiri dan tubuh orang lain. Reaksi pertama ialah dalam bentuk penjelajahan sensomotorik, kemudian sebagai akibat dari tekanan sosial dan hukuman, anak bereaksi dengan bertanya.
e.    Iri hati. Anak-anak sering iri hati mengenai kemapuan atau barang yang dimliki orang lain. Iri hati ini diungkapkan dalam bermacam-macam cara, yang paing umum ialah dengan mengeluh tentang barangnya sendiri, dengan mengungkapkan keinginan untuk memilki barang seperti yang dimiliki orang lain.
f.    Gembira. Anak-anak merasa gembira karena sehat, situasi yang tidak layak, bunyi yang tiba-tiba atau yang tidak diharapkan, bencana yang ringan, membohongi orang lain, dan berhasil melakukan tugas yang dianggap sulit. Anak mengungkapkan kegembiraan dengan tersenyum dan tertawa, bertepuk tangan, melompat-lompat atau memeluk benda atau orang yang membuat bahagia.
g.    Sedih. Anak-anak merasa sedih karena kehilangan segala sesuatu yang dicintai atau yang dianggap penting bagi dirinya, apakah itu orang, binatang, atau benda mati seperti mainan. Secara khas anak mengungkapkan kesedihannya dengan menangis dan dengan kehilangan minat terhadap kegiatan normalnya, termasuk makan.
h.    Kasih sayang. Anak-anak belajar mencintai orang lain, binatang, atau benda yang menyenangkannya. Anak mengungkapkan kasih sayang secara lisan bila sudah besar, tetapi ketika masih kecil anak menyatakannya secara fisik dengan memeluk, menepuk, dan mencium objek kasih sayangnya.

2.3.    Pengertian Kesiapan Belajar
Secara umum kesiapan belajar merupakan kemampuan seseorang untuk mendapatkan keuntungan dari pengalaman yang ia temukan. Kesiapan sering kali disebut dengan “readiness”. Seorang baru dapat belajar tentang sesuatu apabila di dalam dirinya sudah terdapat “readiness” untuk mempelajari sesuatu itu.
Menurut Djamarah “readiness” sebagai kesiapan belajar adalah suatu kondisi seseorang yang telah dipersiapkan untuk melakukan suatu kegiatan. Maksud melakukan suatu kegiatan yaitu kegiatan belajar, misalnya mempersiapkan buku pelajaran sesuai dengan jadwal, mempersiapkan kondisi badan agar siap ketika belajar di kelas dan mempersiapkan perlengkapan belajar yang lainnya.
2.3.1.    Keterampilan Kunci Untuk Meningkatkan Kesiapan Sekolah Anak Prasekolah
Hasil beberapa kajian lebih menunjukkan bahwa secara umum tujuan utama pendidikan pra-sekolah adalah untuk meningkatkan kesiapan sekolah yang lebih difokuskan pada berbagai ketrampilan daripada konten akademik. Wylie (1998) mengemukakan bahwa ada beberapa ketrampilan-ketrampilan krusial yang akan dibutuhkan anak selama perjalanan pendidikannya mulai dari sekolah dasar dan seterusnya, diantaranya yaitu: ketrampilan menyimak dan mendengarkan, ketrampilan akademik, ketrampilan bekerja secara mandiri dan secara kelompok, serta ketrampilan berkomunikasi.
Sejalan dengan pandangan Wylie (1998), Muijs & Reynolds (2008) menyatakan bahwa untuk meningkatkan kesiapan sekolah, mungkin akan lebih baik jika pendidikan pra-sekolah memfokuskan pada ketrampilan sosial, menciptakan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan ketrampilan yang terkait dengan kesiapan sekolah. Lebih lanjut, Muijs & Reynolds (2008:280) mengemukakan beberapa ketrampilan kunci untuk meningkatkan kesiapan sekolah anak pra-sekolah, yaitu:
a.    Ketrampilan sosial, misalnya kemampuan untuk bekerjasama secara kooperatif, untuk menghormati orang lain, untuk mengekspresikan emosi dan perasaan dengan cara yang terhormat, untuk mendengarkan orang lain, untuk mengikuti aturan dan prosedur, untuk duduk dengan penuh perhatian, dan untuk bekerja secara maindiri. Pengembangan ketrampilan sosial pada anak pra-sekolah sangat krusial mengingat adanya beberapa hasil penelitian yang menunjukkan bahwa bila seseorang anak belum mencapai kompetensi sosial minimal pada umur 6 tahun, di kelak kemudian hari ia akan mengalami kesulitan untuk mengembangkan kompensi tersebut (Katz, 1997).
b.    Ketrampilan komunikasi, misalnya ketrampilan untuk meminta bantuan dengan cara yang baik dan sopan, ketrampilan untuk memverbalisasikan pikiran dan perasaan, menjawab pertanyaan terbuka dan tertutup, berpartisipasi dalam diskusi kelas, dan ketrampilan untuk menghubungkan berbagai ide dan pengalaman.
c.    Perilaku terkait-tugas, misalnya perilaku tidak mengganggu anak-anak lain selama proses belajar, ketrampilan anak untuk memantau perilakunya sendiri, menemukan bahan-bahan yang diperlukan guna menyelesaikan tugas, mengikuti pengarahan guru, menggeneraliasikan ketrampilan ke berbagai situasi, bersikap on-task selama mengerjakan pekerjaan yang melibatkan seluruh kelas, dan mencoba berbagai strategi untuk mengatasi masalah yang berbeda.

2.3.2.    Metode Pembelajaran Untuk Mengembangkan Kesiapan Sekolah Anak Prasekolah
Ada beberapa metode pembelajaran yang dapat diterapkan untuk mengembangkan kesiapan sekolah pada anak usia pra-sekolah. Metode-metode pembelajaran berikut, merupakan metode pembelajaran yang banyak direkomendasikan oleh para pakar pendidikan pra-sekolah untuk mengembangkan kesiapan anak memasuki pendidikan sekolah dasar.
a.    Metode Bermain
Salah satu aspek utama pendidikan pra-sekolah adalah bermain. Bermain merupakan cara/jalan bagi anak untuk mengungkapkan hasil pemikiran, perasaan serta cara mereka menjelajahi dunia lingkungannya. Dengan bermain anak memiliki kesempatan untuk bereksplorasi, menemukan, mengekspresikan perasaan, berkreasi, belajar secara menyenangkan. Bermain membantu anak menjalin hubungan sosial antar anak (Padmonodewo, 2003).
Peran guru dalam bermain adalah menyediakan lingkungan di mana murid-murid dapat bermain bersama menggunakan beragam bahan yang dirancang untuk memfasilitasi pembelajaran dan perkembangan mereka (Muijs & Reynolds, 2008). Guru juga dapat bergabung di dalam permainan murid untuk memperluas permainan tersebut. Selama menggunakan metode bermain, guru hendaknya memastikan bahwa semua anak bergabung diberbagai kegiatan, dan perlu memperkenalkan ide-ide dan situasi-situasi baru. Hal tersebut dapat dilakukan selama proses bermain, dengan mengopservasi berbagai masalah anak dan membantu mereka mengatasinya. Sebagai contoh, saat menyusun balok, anak-anak pada awalnya akan menumpuk-numpuknya begitu saja dan mereka akan menemukan bahwa bangunan dari balok yang mereka susun akan cepat roboh. Dalam konteks tersebut, guru dapat menunjukkan kepada anak tentang bagaimana dinding kelas mereka dibangun sehingga dapat membantu mereka menyusun bangunan dari balok-balok tersebut secara lebih baik.
b.    Metode Belajar Kooperatif
Belajar kooperatif dapat dimaknai anak-anak belajar dalam kelompok kecil, dan setiap anak dapat berpartisipasi dalam tugas-tugas bersama yang telah ditentukan dengan jelas, dan supervisi diarahkan oleh guru (Masitoh, dkk; 2005).
Belajar kooperatif mencakup semua jenis kerja kelompok, termasuk bentuk-bentuk kerja kelompok yang lebih dipimpin oleh guru atau di arahkan oleh guru (Muijs & Reynolds, 2008:89). Belajar kooperatif juga melibatkan anak untuk berbagi tanggung jawab antara guru dan anak untuk mencapai tujuan pendidikan. Peran guru adalah mendukung anak untuk belajar bersama-sama, sedangkan anak-anak melakukan tugas dan berperan sebagai teman sejawat dan tutor bagi anak-anak lainnya. Contoh tugas-tugas kooperatif dalam konteks pendidikan pra-sekolah antara lain adalah menciptakan nama kelompok, membuat makanan ringan, bekerjasama membuat menara, bekerjasama menyusun puzzel, dan menyelidiki bagaimana katak hidup.
Menurut Harmin (Masitoh, dkk; 2005:171), belajar kooperatif memiliki karakteristik antara lain sebagai berikut:
•    Semua anggota bertanggung jawab untuk belajar dari dirinya sendiri dan belajar dari orang lain.
•    Anak-anak memberikan konstribusi terhadap anak lainnya dengan cara membantu, memberikan dorongan, mengkritik dan menghargai pekerjaan orang lain.
•    Setiap individu bertanggung jawab untuk mencapai hasil kelompok. Kegiatan dibangun sedemikian rupa sehingga setiap anak berbagi tanggung jawab untuk mencapai tujuan. Umpan balik diberikan kepada individu dan kelompok secara keseluruhan.
•    Anak-anak harus mempunyai kesempatan untuk menggambarkan kerja kelompoknya.
Dengan menggunakan metode belajar kooperatif pada pendidikan pra-sekolah diharapkan guru dapat:
•    Mengembangkan perasaan dan harga diri positif serta meningkatkan ketrampilan anak.
•    Meningkatkan kemampuan anak dalam mengerjakan tugas.
•    Meningkatkan toleransi di antara anak.
•    Meningkatkan kemampuan anak berbicara, mengambil prakarsa, membuat pilihan, dan secara umum mengembangkan kebiasaan belajar sepanjang hayat.

c.    Metode Drama dan Sandiwara Pendek
Cara lain guna memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk ikut ambil bagian di dalam kegiatan yang mereka nikmati, yang memiliki manfaat pendidikan cukup kuat, khususnya dalam mengembangkan kemampuan berbahasa dan berbicara anak. Melalui drama, anak diberi kesempatan untuk dapat terlibat di dalam percakapan yang berbeda dengan apa yang mereka lakukan sehari-hari, serta juga dapat membantu memperluas pemikiran mereka (Hendy dan Toon dalam Muijs & Reynolds, 2008).
d.    Metode Demonstrasi
Secara umum, demonstrasi melibatkan satu orang atau lebih untuk menunjukkan kepada orang lain bagaimana bekerjanya sesuatu dan bagaimana tugas-tugas itu dilaksanakan. Ketika seseorang mendemonstrasikan sesuatu, harus dilakukan pengamatan terhadap kegiatan yang dilaksanakan. Guru menggunakan metode demonstrasi untuk mendeskripsikan tentang sesuatu yang akan dilakukan anak-anak.
Menurut Masitoh, dkk. (2005), metode demonstrasi dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
•    Meminta perhatian anak.
•    Memperlihatkan sesuatu kepada anak-anak.
•    Meminta tanggapan atau respon anak terhadap apa yang mereka lihat dan dengar dengan tindakan dan kata-kata.
Dalam implementasinya, metode ini perlu dikombinasikan dengan metode-metode lainnya, mengingat demonstrasi hanya merupakan bagian kecil dari interaksi pembelajaran yang kompleks.
e.    Metode Diskusi Kelompok Kecil atau Diskusi Kelas
Metode diskusi merupakan sebuah metode yang menunjukkan adanya interaksi timbal balik atau multi arah antara guru dan anak (guru berbicara kepada anak atau anak yang berbicara kepada guru, dan anak berbicara dengan anak dengan anak). Diskusi menggabungkan strategi undangan, refleksi, pertanyaan, dan pernyataan. Dalam diskusi guru tidak membimbing percakapan tetapi mendorong anak-anak untuk mengemukakan gagasannya sendiri dan mengkomunikasikan gagasan secara lebih luas serta mendengarkan pendapat orang lain. Metode ini dapat membantu mengembangkann ketrampilan mendengarkan, ketrampilan berkomunikasi, ketrampilan untuk menghasilkan ide-ide, serta menghormati pendapat orang lain.
f.    Metode Pemecahan Masalah
Kegiatan pemecahan masalah pada dasarnya merupakan salah satu variasi dari metode penemuan terbimbimbing.Harlan (1988) dan Hendrick (1997) dalam Masitoh, dkk. (2005) mengemukakan bahwa dalam kegiatan ini anak-anak terlibat secara aktif dalam kegiatan perencanaan, peramalan, pembuatan keputusan, mengamati hasil tindakannya, sedang guru lebih bertindak sebagai fasilitator yang membimbing dan mengarahkan anak dalam melakukan kegiatan pemecahan masalah secara lebih baik.
Terkadang ide masalah dapat muncul dari peristiwa yang terjadi secara alamiah, dan terkadang juga harus direncanakan terlebih dahulu oleh guru. Masalah yang paling baik bagi anak-anak adalah masalah yang memungkinkan mereka mengumpulkan informasi yang konkrit, dan mengandung lebih dari satu pemecahan masalah, dapat diamati, memudahkan anak-anak untuk mengevaluasinya, dan memungkinkan anak untuk membuat keputusannya sendiri. Masalah yang baik akan dapat menolong anak untuk menganalisis, menyampaikan dan mengevaluasi peristiwa, informasi dan ide. Masalah yang baik juga akan mampu mendorong anak untuk membuat hubungan secara mental dan membangun ide.
g.    Mengategorisasikan Objek
Seperti mainan atau bahan-bahan lain di kelas, menurut kriteria seperti bentuk, ukuran, atau warna akan membantu anak-anak mengembangkan ketrampilan klasifikasi dan kemampuan matematisnya. Guru perlu memastikan bahwa anak-anak menjelaskan kriteria yang mereka gunakan untuk mengklasifikasikan benda-benda tersebut dan usahakan semua anak memahami kriteria yang mereka gunakan.
2.4.    Pengertian Pendidikan Prasekolah
Di dalam Pasal 12 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tercantum bahwa selain pendidikan tinggi, juga terdapat pendidikan prasekolah.Batasan yang dipergunakan oleh The National Association for The Education of Young Children (NAEYC), dan para ahli pada umnya sebagai berikut:
    Yang dimaksudkan dengan “Early Childhood” (anak masa awal) adalah anak yang sejak lahir sampai dengan usia delapan tahun. Batasan ini seringkali dipergunaakan untuk merujuk anak yang belum mencapai usia sekolah dan masyarakat menggunakannya bagi berbagai tipe prasekolah.
    Early Childhood Setting (tatanan anak masa awal) menunjukkan pelayanan untuk anak sejak lahir sampai dengan delapan tahun di suatu pusat penyelenggaraan, rumah, atau institusi, seperti kindergarten, Sekolah Dasar dan program rekreasi yang menggunakan sebagian waktu atau penuh waktu.
    Early Childhood Education (pendidikan awal masa anak) terdiri dari pelayanan yang diberikan dalam tatanan awal masa anak. Biasanya oleh para pendidik anak usia dini (young children) digunakan istilah early childhood (anak masa awal) dan early childhood education (pendidikan anak masa awal) dianggap sama atau sinonim.
Dalam Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 12 Ayat (2) menyebutkan “ Selain jenjang pendidikan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1), dapat diselenggarakan pendidikan prasekolah,” adalah pendidikan yang diselenggarakan untuk mengembangka pribadi, pengetahuan, dan keterampilan yang melandasi pendidikan dasar serta mengembangkan diri secara utuh sesuai dengan asas pendidiika sedini mungkin dan seumur hidup.
Pendidikan prasekolah, menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 tahun 1990 tentang pendidikan prasekolah, mempunyai tujuan untuk meletakkan dasar perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta anak didik di dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungan.
Di samping hal tersebut, pendidikan prasekolah juga membantu untuk pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak didik di luar lingkungan keluarga sebelum memasuki jalur pendidikan sekolah. Hal yang perlu digarisbawahi pada Peraturan Pemerintah RI Nomor 27 tahun 1990 ini adalah pendidikan prasekolah tidak merupakan persyaratan untuk memasuki sekolah dasar. Dengan demikian, mengikuti pendidikan prasekolah seperti Taman Kanak-Kanak, Kelompok Bermain dan Tempat Penitipan Anak maupun bentuk lainnya, bukan suatu hal yang wajib diikuti oleh seorang anak usia 3-5 tahun. Namun, adanya gejala (yang semakin umum dan meluas) pada pendaftaran murid baru Kelas 1 Sekolah Dasar untuk menyertakan Rapor TK, menunjukkan bahwa kegiatan pendidikan prasekolah ini termasuk dipentingkan oleh penyelenggara pendidikan dasar.
Anak-anak calon murid Kelas 1 SD yang berasal dari TK dibandingkan dengan yang belum pernah pernah mengikuti TK, akan jelas terlihat perbedaan performance-nya. Mereka yang mengikuti pendidikan prasekolah sudah terbiasa dan terampil untuk membaca huruf, suku kata dan kalimat serta sekaligus merangkaikannyadalam tulisan. Sebaliknya, anak-anak yang sama sekali tidak mengenyam pendidikan prasekolah (dan tidak dilatih oleh orang tua dirumah karena dianggap porsi pelajaran skolastik adalah urusan guru), tampak agak tertinggal.
2.5.    Tujuan Prasekolah
Ada beberapa negara di dunia mempunyai perbedaan mengenai pendidikan prasekolah contohnya saja di negara Cina, prasekolah diharapkan untuk memberikan persiapan akademis untuk bersekolah. Namun sebaliknya di negara besar seperti Amerika Serikat prasekolah secara tradisional mengikuti filosofi “berpusat pada anak-anak” (child-centered) menekankan pertumbuhan sosial dan emosional yang sejalan dengan kebutuhan perkembangan anak walaupun sebagian, yang mendasarkan diri kepada teori pendidik Italia Maria Montessori atau Piaget, memiliki penekanan kogntif yang lebih kuat.
Pendidikan prasekolah di Jepang berbeda dengan yang terdapat di AS, walaupun masalah yang sama juga mengemuka disana. Prasekolah Jepang biasa, searah dengan nilai kultural yang dapat diterima berpusat pada masyarakat (society centered). Sekolah tersebut menekankan keterampilan dan sikap yang menghadirkan keharmonisan kelompok, seperti mengucapkan salam kepada guru dengan benar. Dua bentu prasekolah lain yang baru-baru ini muncul di Jepang aalah child centered (berpusat pada anak) dan role-centered (berpusat pada masyarakat).
Tujuan utama pendidikan pra-sekolah adalah membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar (Puskur, 2003). Berkaitan dengan hal tersebut, ada beberapa fungsi pendidikan pra sekolah, yang mana salah satu diantaranya adalah untuk menyiapkan anak didik memasuki pendidikan dasar. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa selain bertujuan dan berfungsi untuk menstimulasi tumbuh kembang anak, pendidikan pra-sekolah sesungguhnya juga berperan penting untuk mengembangkan kesiapan anak didik dalam memasuki pendidikan sekolah dasar.
Hasil penelitian yang dikemukakan oleh Wylie (1998) menunjukkan bahwa anak-anak yang mengikuti pendidikan pra-sekolah memperlihatkan prestasi belajar yang lebih baik di sekolah dasar dibandingkan dengan murid-murid yang tidak mengikuti pendidikan pra-sekolah. Menurut Wylie (1998), beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa murid-murid mendapatkan manfaat yang lebih besar bila pendidikan pra-sekolah itu sudah dimulai sebelum umur tiga tahun (umur dimulainya pendidikan pra-sekolah di kebanyakan negara). Sebagaimana juga ditunjukkan oleh hasil penelitian mutakhir di Selandia Baru, bahwa anak-anak yang mengalami paling tidak tiga tahun pendidikan pra-sekolah memperlihatkan skor yang lebih tinggi pada tes kompetensi dibanding sebayanya pada usia 10 tahun (Wylie dan Thompson, 2003).
Secara umum, menurut Stipek dan Ogawa (Kagan dan Hallmark, 2001), program-program pra-sekolah ditemukan memberikan manfaat jangka pendek maupun jangka panjang, seperti prestasi akademik yang lebih tinggi, angka tinggal kelas yang lebih rendah, angka kelulusan yang lebih tinggi, dan angka kenakalan yang lebih rendah dikelak kemudian hari.

2.6.    Tipe Prasekolah
Prasekolah merupakan suatu  pilihan pendidikan bagi kanak-kanak sebelum memasuki sekolah formal. Walaupun beberapa orang menganggap bahwa masuk prasekolah tidak diharuskan, apalagi mengingat biaya yang tidak sedikit. Apabila orangtua atau pengasuh sudah mampu menerapkan berbagai parenting style yang tepat, anak tidak harus masuk sekolah sebelum usia 5 tahun. Dengan pola pengasuhan yang baik di rumah, anak justru bisa bermain dengan lebih bebas dan tenang. Tentunya juga perlu tambahan pengalaman bermain di luar rumah dengan para tetangga. Sebaliknya beberapa orang beranggapan bahwa seorang anak harus menempuh pendidikan prasekolah mengingat begitu banyaknya keuntungan dan perubahan positif yang diperoleh.
Bagi anak usia 4-5 tahun perlunya dilakukan pengembangkan kemampuan dalam hal sosialisasi karena mereka akan mulai bermain bersama dengan teman sebayanya. Stimulasi pada anak juga harus diperhatikan seperti dalam hal aspek motorik, bahasa, kognitif, sosial-emosi, dan kemandirian. Apabila beberapa aspek ini sudah terpenuhi dalam diri seorang anak maka saat anak tersebut melanjut ke sekolah formal, ia tidak akan menemukan kendala yang besar. Sebaliknya jika beberapa aspek ini kurang terpenuhi dalam diri seorang anak maka akan adanya kendala yang cukup rumit baik bagi anak tersebut maupun orangtunya.
Walaupun di prasekolah (Kelompok Bermain & Taman Kanak-kanak) ada kegiatan baca, tulis, hitung maka hal itu sebaiknya bukan menjadi target utama pembelajaran. Pengenalan hal tersebut di prasekolah seharusnya  dilakukan bukan dengan cara memaksa dan drilling, tetapi lebih mengenalkannya lewat lagu dan permainan. Melalui lagu dan permainan, kemampuan baca, tulis, dan berhitung anak bisa berkembang dengan baik dan tidak membuat anak stres. Namun kenyataannya tetap saja, ada TK yang memfokuskan ke membaca, menulis dan berhitung dengan alasan lebih diminati dan memang diminta orang tua.
Beberapa prasekolah juga mendidik anak yang berusia dibawah 4 tahun bahkan ada yang mendidik anak yang berusia 6 bulan. Sebaiknya, anak yang berusia dibawah 2 tahun tidak perlu dimasukkan ke prasekolah karena anak tersebut masih lebih menggantungkan dirinya kepada orangtuanya. Untuk itu, beberapa ciri-ciri anak yang sebaiknya mengikuti pendidikan prasekolah adalah anak yang berusia sekitar 4-6 tahun dan sudah memiiki kemampuan motorik yang baik.
Tipe prasekolah apa yang baik untuk anak?  Berbagai studi di Amerika Serikat mendukung pendekatan perkembangan berpusat pada anak. Salah satu studi lapangan (Marcon, 1999) membandingkan 721 anak Afro-Amerika berusia 4-5 tahun dari keluarga berpenghasilan rendah yang berasal dari tiga tipe prasekolah di Washington, D. C.; child-initiated, academically directed, dan middle-of-the road (campuran dari dua pendekatan sebelumnya). Anak-anak yang berasal dari program child-initiated, di mana mereka secara aktif mengarahkan pengalaman belajar mereka, memiliki hasil yang bagus dalam keterampilan akademis dasar. Mereka juga memiliki keterampilan motoris yang lebih maju dibandingkan dua kelompok dan dinilai lebih tinggi dibandingkan kelompok middle-of-the road dalam keterampilan berperilaku dan berkomunikasi. Temuan ini menyatakan bahwa filosofi pendidikan tunggal yang koheren bekerja lebih baik dibandingkan dengan upaya menyatukan pendekatan yang berbeda. Temuan tersebut juga menyatakan bahwa pendekatan yang berfokus kepada anak lebih efektif dibandingkan dengan yang berfokus pada akademis.
2.7.    Transisi ke Taman Kanak-kanak
Pendidikan anak prasekolah merupakan bentuk transisi perkembangan anak dari lingkungan keluarga kepada lingkungan sekolah. Masa transisi ini merupakan masa yang cukup sulit namun menyenangkan bagi anak, karena kesiapan pada setiap anak dalam melalui masa transisi ini berbeda-beda, hal ini juga dipengarui oleh dukungan dari keluarga pengasuh si anak itu sendiri, dimana dukungan orangtua dalam membimbing anak secara informal sangat dibutuhkan untuk mendukung bimbingan yang diperoleh anak dari pendidikan prasekolah sebagai sektor formal. Salah satu jenis lembaga pendidikan anak prasekolah yang telah dikenal di Indonesia ialah Taman Kanak-kanak (TK).
Taman Kanak-kanak merupakan wadah yang disediakan untuk anak berusia 4-6 tahun. Menurut Brickenridge dan Vincent (1966) pendidikan TK dapat memperluas pengalaman sosial dan intelektual anak. Tujuan pendidikan prasekolah seperti Taman Kanak-kanak (TK) adalah untuk memberikan stimulasi dan bimbingan terhadap kebutuhan fisik dan pertumbuhannya, serta meningkatkan kemampuan intelektual dan hubungan sosial sebagai persiapan untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi.
Pendidikan prasekolah dapat membantu perkembangan anak. Secara terinci Hurlock (1978) menyebutkan ada 10 aspek perkembangan yang dapat mendorong pertumbuhannya melalui pendidikan prasekolah. Kesepuluh aspek tersebut ialah kesehatan fisik, keterampilan, kemampuan berbicara (berkomunikasi), perkembangan emosi, perilaku sosial, sikap sosial, kreativitas, disiplin, konsep diri dan penyesuaian sekolah. Papalia Olds (1986) menyatakan bahwa pendidikan prasekolah membantu perkembangan anak dalam berbagai aspek yaitu fisik, intelektual, sosial, dan emosional. Perasaan otonomi anak berkembang dengan adanya kesempatan bereksplorasi diluar rumah. Adanya kesempatan bermain dengan anak-anak lain menjadikan mereka memiliki banyak kesempatan untuk bekerjasama dan memahami perspektif serta perasaan orang lain. Adapun aspek-aspek keuntungan pendidikan prasekolah sebagai berikut:

1.    Aspek Sosial

         Kebutuhan Sosial pada anak-anak mengungkapkan bahwa anak-anak membutuhkan orang lain dan selalu ingin berhubungan dengan orang lain dalam proses perkembangannya. Hal ini karena pada dasarnya manusia merupakan makhluk individu dan sekaligus juga sebagai makhluk sosial (Nuryoto, 1995). Hubungan sosial anak semakin meluas karena kebutuhan sosialnya juga akan semakin kompleks. Mereka sudah butuh teman sebaya, perlu memahami orang dewasa selain orang tua, misalnya gurunya.
Dalam kesiapan ini, anak akan merasa senang masuk TK, karena mereka akan mempunyai banyak teman dan dapat bermain dengan leluasa. Pada usia prasekolah ini, anak memiliki kontak intensif dengan teman sebaya. Berbagai pola tingkah laku anak timbul dengan cara menirukan, belajar-model, dan oleh penguat dari pihak teman-teman sebaya.

2.    Aspek Kognitif

         Kebutuhan secara kognitif (intelektual) akan tampak pada anak dengan adanya keinginannya untuk mengetahui sesuatu yang ada di lingkungannya. Anak ingin berprestasi, ingin mengamati sesuatu secara serius, ingin mengetahui hal-hal baru, mencoba sesuatu, menciptakan sesuatu, dan sebagainya. Pada masa ini, anak akan banyak bertanya tentang segala sesuatu yang dilihat atau didengarnya dengan pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana (Nuryoto, 1995). Keinginan untuk berprestasi ini harus diberi stimulasi bila kita akan menyambut dorongan manipulasi dan eksplorasi anak.

3.    Aspek Emosional

         Kebutuhan emosional anak juga akan terpenuhi dengan adanya kesempatan untuk bereksplorasi dalam ekspresi emosi anak pada lingkungan prasekolahnya. Emosi anak akan berkembang secara sehat kalau anak mendapatkan bimbingan secara tepat dengan penuh kasih sayang. Dengan mendapatkan perlakuan yang tepat, anak akan merasa aman dan mampu mengembangkan emosinya secara positif, juga akan semakin memupuk rasa percaya diri pada anak (Nuryoto, 1995). Selanjutnya (Hurlock, 1984) ketelantaran emosional pada anak seperti keterbatasan akan rasa ingin tahu, kasih sayang dan kebahagiaan, akan membatasi perkembangan kepribadian anak.

4.    Aspek Fisik

         Kebutuhan Fisik merupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan pertumbuhan dan kesehatan fisik, misalnya makanan, udara segar, sinar matahari, tidur atau istirahat. Dengan adanya lingkungan prasekolah, maka kegiatan-kegiatan yang memerlukan aktifitas fisik seperti olahraga, bermain tali, memanjat, mencoret-coret, akan mempengaruhi perkembangan otot dan motorik anak. Keberhasilan anak dalam menghadapi tantangan fisik ini mempunyai arti yang lebih luas bagi anak, dalam hal perkembangan pribadi, anak akan merasa mampu dan berani dalam mencoba hal-hal baru dan akan mempengaruhi perkembangan kecerdasannya.
Dalam sebuah kelompok penelitian, yang diikuti oleh 399 siswa taman kanak-kanak sepanjang 1 tahun, menemukan sejumlah faktor saling terkait yang memengaruhi pencapaian kognitif dan penyesuaian sosial. Resiko yang sudah ada dan faktor protektif yang berkaitan dengan anak dan lingkungan rumah berinteraksi dengan karakteristik alamiah dari lingkungan kelas, seperti perkembangan hubungan antara anak dengan guru dan teman sebaya, dan efek yang muncul terus menguat dari waktu ke waktu.
Anak yang menunjukkan perilaku prososial di awal menjadi lebih disukai sedangkan anak yang sudah menunjukkan prilaku non-sosial di awal menjadi semakin tidak disukai. Jenis yang terakhir sering kali terlibat konflik dengan guru, kurang berpartisipasi, dan mendapatkan prestasi yang lebih rendah. Anak-anak yang lebih matang secara kognitif memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk berpartisipasi, dan mereka yang berpartisipasi lebih banyak akan mendapatkan lebih banyak. Latar belakang keluarga yang mendukung juga mempengaruhi prestasi (Ladd, Birch, & Buhs, 1999).  Anak-anak yang ditolak oleh teman sebayanya cenderung kurang berpartisipasidalam kelas dan kurang berprestasi. Mereka cenderung merasa sendiri dan ingin terus berada di rumah (Buhs & Ladd, 2001).
Terdapat usulan untuk memperpanjang jumlah tahun sekolah, baik bagi taman kanak-kanak maupun bagi tingkatan yang lebih tinggi. Ketika sekolah dasar di kota ukuran menengah di tenggara menambah 30 hari ke dalam jumlah hari akademisnya, taman kanak-kanak yang menjalani program belajar 210 hari mengalahkan para murid taman kanak-kanak tradisional yang berjumlah 180 hari dalam tes matematika, membaca, pengetahuan umum, dan kompetisi kognitif pada awal tingkat pertama (Frazier & Morrison, 1998). Perkembangan keterampilan fisik dan kognitif masa kanak-kanak awal memiliki implikasi psikososial.

2.8.    Program Prasekolah Pengganti
Makin tinggi sosialekonomi suatu keluarga semakin siap seorang anak untuk bersekolah. Diperkirakan dua per tiga anak kurang mampu memasuki sekolah dengan persiapan belajar yang buruk(Ziggler,1998). Sejak tahhun 1960-an, program berskala besar telah dikembangkan untuk membantu anak-anak dan mempersiapkan mereka bersekolah.
Program prasekolah pengganti terbaik bagi anak kurang mampu di Amerika adalah Project Head Start, program sumbangan federal yang diluncurkan pada 1965. Targetnya tidak hanya meningkat kemampuan kognitif tetapi juga meningkatkan kesehatan mental, mengembangkan percaya diri, hubungan dengan orang lain, tanggung jawab, dan rasa kehormatan dan harga diri bagi anak dan keluarga.
Sebagaian besar kesuksesan program Head Start adalah dikarenakan partisipasi orang tua, guru yang terlatih, dan pelayanan yang baik. Akan tetapi, ketika program pengganti tidak diteruskan setelah anak masuk sekolah, kemampuan kognitif cenderung hilang.
Perkembangan pendidikan prasekolah tidak hanya terjadi di negara yang telah maju saja, tetapi juga dinegara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Berbagai macam pelayanan pendidikan prasekolah ditemukan di sekitar kehidupan kita seperti taman kanak-kanak(TK), pendidikan anak usia dini(PAUD), Day Care/TPA. Taman Kanak-kanak adalah sarana sekolah untuk anak prasekolah. program ini telah dikembangkan sejak abad ke-18 oleh Froebel seorang pendidik yang berasal dari Jerman. Seperti program prasekolah lainnya, di taman kanak anak-anak diaajarkan kemampuan untuk berbahasa, kognitif, kemampuan fisik motorik, dan seni.
Dalam kemampuan berbahasa anak mampu mendengarkan, berkomunikasi secara lisan, dan memiliki perbendaharaan kata yang baik. Kemampuan kognitif anak juga mampu mengenal konsep sederhana dlam kehidupan sehari-hari. Anak juga mampu untuk melakukan aktivitas fisik secara terkordinasi. Biasanya Taman Kanak-Kanak disediakan untuk menghadapi masa sekolah atau memasuki tingkat bsekolah dasar (SD).
TPA/day care merupakan pengasuhan anak dalam kelompok. biasanya dilaksanakan pada saat jam kerja. Day care merupakan upaya yang terorganisasi untuk mengasuh anak-anak di luar rumah mereka selama beberapa jam dalam waktu satu hari bilamana asuhan orangtua kurang dapat dilaksanakan secara lengkap. Dalam hal ini pengertian Day care hanya sebagai pelengkap terhadap asuhan orangtua dan bukan sebagai pengganti asuhan orangtua.TPA juga diperuntukkan anak dalam keluarga yang kurang beruntung. TPA diperuntukkan jika anak mengalami hambatan karena orang tua dan ibu bekerja.

2.9.    Orang Tua dan Pendidikan Prasekolah
Adalah suatu kenyataan bahwa orang tua adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Apabila anak telah masuk sekolah, orangtua adalah mitra kerja yang utama bagi guru anaknya. Bahkan sebagai orangtua, mereka mempunyai berbagai peran pilihan yaitu: orang tua sebagai pelajar, orang tua sebagai relawan, orang tua sebagai pembuat keputusan, orang tua sebagai anggota tim kerjasama guru-orang tua. Dalam peran-peran tersebut memungkinkan orang tua membantu meningkatkan perkembangan dan pertumbuhan anak-anak mereka.
Baik orang tua maupun guru selalu berharap agar anak atau anak didiknya akan mampu mencapai prestasi dan tumbuh serta berkembang secara optimal. Walaupun demikian pada kenyataannya tidak mudah menjalin kerja sama antara kedua belah pihak tersebut. Baik orang tua maupun guru seringkali tidak memiliki pandangan yang sama terhadap pendidikan, khususnya dalam mendisiplin, hubungan antara anak dan orang dewasa, anak lelaki dan perempuan, atau budayanya.
Ada berbagai cara bagaimana guru dapat membantu para orang tua melalui pendidikan anaknya. Tetapi sebaiknya para guru tidak terlalu banyak mengkritik atau menuntut para orang tua, karena pada umumnya yang dibutuhkan adalah bantuan bukan kritik. Demikian pula sebaliknya, yang lebih penting adalah kerja sama.
Partisipasi orang tua di sekolah pada umumnya guna meningkatkan prestasi anak di sekolah. Apabila memiliki program sekolah yang baik dan orang tua mau membantu, umumnya prestasi dan keterampilan anak akan meningkat.
Para pendidik telah menyadari usaha guru dalam mengajar akan lebih efektif hasilnya apabila orang tua ikut membantu dalam pendidikan tersebut. Sebaliknya apabila orang tua menyadari bahwa disiplin sekolah adalah satu hal yang terpenting, biasanya orang tua akan bersedia membantu kegiatan belajar mengajar anaknya dalam kegiatan yang berhubungan dengan tugas sekolah. Beberapa hal telah membuktikan bahwa ternyata makin orang tua menyadari pentingnya program sekolah, makin langsung dan besar keterlibatan orang tua.




BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Pergi ke prasekolah merupakan langkah penting, memperluas lingkungan fisik, kognitif, dan sosial anak. Saat ini, dengan jumlah belum yang pernah ada sebelumnya, anak usia 4 tahun bahkan yang berusia 3 tahun telah didaftarkan ke pendidikan masa kanak-kanak awal. Transisi ke taman kanak-kanak, dan awal “sekolah yang sebenarnya” merupakan langkah penting lainnya.
Di sebagian negara, prasekolah diharapkan memberikan persiapan akademis untuk bersekolah. Sebagai bagian dari perdebatan seputar cara meningkatkan pendidikan, tumbuh tekanan untuk menawarkan instruksi dengan basis keterampilan akademis.
Diperkirakan dua pertiga anak di daerah urban kumuh memasuki sekolah dengan persiapan belajar yang buruk (Zigler, 1998). Sejak tahun 1960-an, program berskala besar telah dikembangkan untuk membantu anak-anak semacam itu untuk mengganti apa yang terlewatkan oleh mereka dan untuk mempersiapkan mereka bersekolah.
Anak-anak menghabiskan lebih sedikit waktu untuk aktivitas yang mereka pilih sendiri dan lebih banyak untuk mengerjakan lembar tugas dan persiapan untuk membaca. Banyak taman kanak-kanak saat ini menghabiskan waktu sehari penuh dibanding taman kanak-kanak tradisional yang setengah hari. Dan seiring dengan semakin memuncaknya tekanan akademis dan emosional, banyak orang tua yang menahan anaknya setahun lebih lama sehingga anak-anak tersebut saat ini mulai masuk taman kanak-kanak pada saat berusia 6 tahun.
1.2.     Saran
Bertolak dari kesimpulan di atas, maka penulis memberikan saran sebagai berikut, yaitu orang tua sangat berperan penting dalam tumbuh kembang anak-anaknya. Apabila perkembangan yang terjadi pada anak terhambat atau tidak sesuai dengan seharusnya, maka anak tersebut akan mengalami masalah pada perkembangannya kedepan. Oleh karena itu, peran orang tua sangat amat penting.   
 
DAFTAR PUSTAKA
1.    Papalia, Diane E, Olds dan Feldmen.2009. Human development edisi sepuluh. New york:Mcgraw-hill companies.
2.    Hurlock, Elizabeth. Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta : Erlangga.
3.    Akbar, Reni. 2001. Psikologi Perkembangan Anak, Mengenal Sifat, Bakat, dan Kemampuan Anak. Jakarta : Gramedia.
4.    Patmonodewo, Soemiarti. 1995. Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta : Rineka Cipta.
5.    Susanto, Ahmad. 2011. Perkembangan Anak Usia Dini, Pengantar dalam Berbagai Aspeknya. Jakarta : Kencana



Sabtu, 19 April 2014

Slide Observasi Kelompok 11


Slide observasi kel.11 from MAIMUNAHAZZAHRAH


Kelompok 11 :
Ketua : Novemina Angelita 131301028 http://13028na.blogspot.com
Anggota :
Maimunah 131301018 http://13018mm.blogspot.com
Siti Khalida Ilmi 131301062  http://13062ilmidl.blogspot.com
Indri Diani 131301128 http://13128id.blogspot.com
 

Evaluasi Observasi ke Sekolah




Kelompok 11 :
Ketua : Novemina Angelita 131301028 http://13028na.blogspot.com/
Anggota :
Maimunah 131301018 http://13018mm.blogspot.com
Siti Khalida Ilmi 131301062  http://13062ilmidl.blogspot.com
Indri Diani 131301128 http://13128id.blogspot.com

C. Evaluasi dan Laporan
1. Evaluasi
      a. proses pelaksanaan observasi
Pada tanggal 27 Maret 2014 pukul 07:00 WIB Novemina angelita ketua kelompok 11 bersama Dessy awalia ketua kelompok 13 pergi mencari sekolah yg akan kami observasi, kami merencanakan untuk mengobservasi bersama pada satu sekolah namun berbeda tingkatan kelasnya, dengan berbekal keberanian, KTM dan lafazh basmallah kami pergi ke sekolah SDN 068083 Medan di jalan kemuning Tj.rejo untuk menghadap kepala sekolah SDN 068083 Medan , dan Alhamdulillah kami bisa bertemu langsung dengan ibu kepala sekolah, kami mulai dengan perkenalan dan menjelaskan maksud kedatangan kami  lalu kami meminta izin agar pada tanggal 28 Maret 2014 kami sudah dapat melakukan observasi, kami juga menjelaskan bahwa surat izin observasi kami sedang dalam pengurusan, dan Alhamdulillah ibu kepala sekolah mengizinkan kami untuk dapat melakukan observasi pada tanggal 28 Maret 2014 dan meminta agar surat izinnya dapat diserahkan secepatnya.
Pada tanggal 28 Maret 2014 pukul 07:30 kami kelompok 11 berkumpul di SDN 068083 untuk segera melaksanakan observasi, sebelum kami melakukan observasi kami melapor terlebih dahulu kapada guru yg akan mengajar di kelas yg akan kami observasi yaitu kelas 1, kami menjelaskan bahwa kami akan merekam dinamika pembelajaran antara siswa dengan guru. Dan setelah mendapat izin kami langsung memulai mengobservasi kelas 1 SDN 068083 dengan merekam aktivitas di dalam kelas.
Observasi kami lakukan dengan menganalisis berdasarkan teori belajar yang relevan dan teori perkembangan pada middle childhood karna observasi ini kami lakukan pada siswa dasar kelas 1.
      Berikut pembagian tugas observasi kelompok 11:
-          Meminta izin pihak sekolah (Novemina angelita 13-028)
-          Merekam interaksi siswa dan guru (Novemina angelita 13-028)
-          Mengambil foto fasilitas sekolah (Maimunah 13-018 dan Indri Diani 13-128)
-          Mencatat hasil observasi (Siti khalida Ilmi Daulay 13-062 dan Indri Diani 13-128
-           Membuat laporan observasi :
       (Maimunah 13-018, Novemina angelita 13-028 dan Siti khalida Ilmi 13-062)
-          Menyusun hasil dokumentasi (Indri Diani 13-128)
-          Menyusun slide laporan observasi (Novemina angelita 13-028 dan Maimunah 13-018)
-          Membuat evaluasi hasil observasi 
      (Novemina angelita 13-028, Maimunah 13-018, Siti khalida ilmi 13-062 dan Indri diani 13-128)

Sebelum mengobservasi, kita harus mengetahui bagaimana cara mengajar yang efektif,  karna mengajar adalah hal yang kompleks maka guru harus menguasai beragam perspektif serta strategi, dan mengaplikasikannya dengan fleksibel.
 Ada 2 hal yang harus dimiliki oleh guru :
1.      pengetahuan dan keahlian professional
maksudnya adalah seorang guru harus menguasai materi pelajaran dan keahlian/keterampilan dalam mengajar, guru harus mengetahui bagaimana cara berkomunikasi dan memotivasi murid-murid yang beragam budaya nya.
2.      komitmen dan motivasi
komitmen dan motivasi ini dibutuhkan oleh guru agar dapat melewati masa-masa sulit dan melelahkan dalam mengajar, guru yg efektif memiliki kepercayaan diri terhadap kemampuannya sendiri sehingga tidak akan membiarkan emosi negative melemahkan motivasinya.

Teori perkembangan
-          perkembangan kognitif : Operational Kongkrit (7‐11), penggunaan logika yang memadai. Tahap ini telah memahami operasi logis dengan bantuan benda konkrit.kami akan menganalisis berdasarkan periode perkembangan, yaitu pada middle childhood (masa sekolah dasar) di mulai dari usia 6 tahun sampai 11 tahun, pada tahap ini anak mulai menguasai keahlian membaca, menulis, dan menghitung. Prestasi menjadi tema utama dari kehidupan anak dan mereka semakin mampu mengendalikan diri, ini dapat terlihat ketika ibu guru memberikan tugas lalu mereka mengerjakan di buku tulis, ketika ibu guru mengatakan “siapa yang bisa menulis kata menyapu di papan tulis ibu kasih nilai 100” lalu mereka semua berteriak dan mengacungkan tangan keatas sambil berlari menuju meja guru, mereka berebut untuk bisa menuliskan nya di papan tulis dan mendapat nilai 100, lalu ibu guru mengintruksikan siapa yang duduk rapi, dia yang boleh menuliskannya kedepan, dan mereka pun berebut untuk duduk yg rapi, ini membuktikan bahwa pada tahap ini prestasi memang menjadi tema utama dari kehidupannya dan mereka mampu mengendalikan diri. Di periode ini mereka berinteraksi dengan dunia social yang lebih luas di luar keluarganya.
-          Periode perkembangan emosional yaitu masa transisi dari early childhood ke middle childhood: saat anak menjalani transisi ke sekolah dasar, mereka akan berinteraksi dan mengembangkan hubungan dengan teman-teman di lingkungan barunya, dan lingkungan nya itu akan membentuk pemahaman tentang diri mereka.
-          Perkembangan psikososial
Hal tersebut berkaitan dengan perkembangan dan perubahan emosi individu. J. Havighurst mengemukakan bahwa setiap perkembangan individu harus sejalan dengan perkembangan aspek lain seperti di antaranya adalah aspek psikis, moral dan sosial. Menjelang masuk SD, anak telah Mengembangkan keterampilan berpikir bertindak dan pengaruh sosial yang lebih kompleks. Sampai dengan masa ini, anak pada dasarnya egosentris (berpusat pada diri sendiri) dan dunia mereka adalah rumah keluarga, dan taman kanak‐kanaknya.
Pendidikan yang sesuai secara perkembangan, yaitu pendidikan yang didasarkan pada pengetahuan perkembangan khas dari anak-anak dalam rentang usia dan keunikan anak. Pengetahuan ini dapat di jadikan pedoman bagi guru dalam mempersiapkan lingkungan belajar, anak-anak akan berkembang dengan sangat baik jika mereka merasa aman secara psikologis. Perkembangan anak juga akan meningkat ketika dia diberikan kesempatan untuk mempraktikkan keahlian baru dan merasakan tantangan diluar kemampuan mereka saat itu, dalam hal ini diharapkan orang-orang dewasa yang berada disekitarnya memberikan dorongan kepada anak agar mau belajar dan tidak menyerah karna anak-anak adalah pembelajar yang aktif dan harus didorong untuk membangun pemahaman dunia di sekitarnya.
Teori belajar
Pembelajaran adalahpengaruh permanen atas perilaku, pengetehuan, dan keterampilan berpikir yang diperoleh dari pengalaman.
-          Behavior
perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang dapat diobservasi, pandangan behavioral ini merupakan pembelajaran asosiatif,  yang dapat kami observasi di dalam kelas 1 SD :
1.      Operant Conditioning
Bentuk pembelajaran dengan konsekuensi-konsekuensi yang memungkin kan perilaku untuk di ulangi atau di hapuskan.
Contoh ; murid menjawab pertanyaan dari guru dengan benar, guru memberikan nilai 100 sehingga murid merasa senang dan termotivasi untuk menjawab dengan benar lagi.
-          Modelling
Bentuk pembelajaran dengan cara mengamati, lalu menirukan perilaku.
Contoh: guru membacakan kalimat yang ada di dalam buku bahasa Indonesia, murid menirukan kalimat tersebut.

b. Evaluasi hasil observasi di kelas

 1. Di kelas
 interaksi/ komunikasi antara murid dan guru berjalan dengan baik sehingga proses pembelajaran juga berjalan dengan baik. Cara berbicara guru keras dan jelas untuk dapat menarik perhatian murid-murid.
2. Setting ruangan kelas
Tata letak ruang sama seperti sekolah lain pada umumnya, di dalamnya terdapat alat-alat belajar seperti black-white board, lemari buku, meja dan kursi, alat-alat tulis seperti spidol dan kapur, serta terdapat hiasan dinding seperti peta, gambar pahlawan, foto presiden dan wakilnya
3.Setting lokasi sekolah
Jumlah ruangan ada 6, dipakai untuk kelas pagi dan siang. Halaman sekolahnya kecil karna halaman sekolah nya dibagi 2 dengan sekolah SDN yang ada tepat di depan SDN 068083.
Karakteristik Anak SD
1. Karakteristik anak usia SD adalah senang bermain, senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok, serta senang merasakan/ melakukan sesuatu secara langsung. Oleh karena itu, guru hendaknya mengembangkan pembelajaran yang mengandung unsur permainan, memungkinkan siswa berpindah atau bergerak dan bekerja atau belajar dalam kelompok, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam pembelajaran.
a. Anak SD Senang Bermain.
Karakteristik ini menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang bermuatan permainan lebih – lebih untuk kelas rendah.Guru SD seyogyanya merancang model pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan di dalamnya. Guru hendaknya mengembangkan model pengajaran yang serius tapi santai. Penyusunan jadwal pelajaran hendaknya diselang saling antara mata pelajaran serius seperti IPA, Matematika, dengan pelajaran yang mengandung unsur permainan seperti pendidikan jasmani, atau Seni Budaya dan Keterampilan (SBK).
b.  Anak SD Senang Bergerak.                                                                       
Orang dewasa dapat duduk berjam‐jam, sedangkan anak SD dapat duduk dengan tenang paling lama sekitar 30 menit.Oleh karena itu, guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak.Menyuruh anak untuk duduk rapi untuk jangka waktu yang lama, dirasakan anak sebagai siksaan.
c.  Anak usia SD Senang Bekerja dalam Kelompok.
Anak usia SD dalam pergaulannya dengan kelompok sebaya, mereka belajar aspek-aspek yang penting dalam proses sosialisasi, seperti: belajar memenuhi aturan-aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya dilingkungan, belajar menerimanya tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif), mempelajarai olah raga dan membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok, serta belajar keadilan dan demokrasi. Karakteristik ini membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok. Guru dapat meminta siswa untuk membentuk kelompok kecil dengan anggota 3‐4 orang untuk mempelajari atau menyelesaikan suatu tugas secara kelompok.
d. Anak SD Senang Merasakan atau Melakukan/memperagakan Sesuatu Secara
Langsung.
Ditunjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasional konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep-konsep baru dengan konsep‐konsep lama. Bagi anak SD, penjelasan guru tentang materi pelajaran akan lebih dipahami jika anak melaksanakan sendiri (membuat contoh-contoh yg sesuai dengan pengalamannya), sama halnya dengan memberi contoh bagi orang dewasa. Dengan demikian guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh anak akan lebih memahami tentang arah mata angin, dengan cara membawa anak langsung keluar kelas, kemudian menunjuk langsung setiap arah angin, bahkan dengan sedikit menjulurkan lidah akan diketahui secara persis dari arah mana angina saat itu bertiup.
Kesimpulan Observasi :
Dari hasil observasi yang kami lakukan di kelas 1 SD 068083 dapat kami simpulkan bahwa metode pembelajaran yang di terapkan sudah sesuai pada perkembangan anak, seperti metode pembelajaran operant conditioning dan modeling.
Demikian evaluasi hasil observasi psikologi pendidikan kelompok 11, kami sangat berterimakasih kepada ibu S.Nasution, SPdi  selaku kepala sekolah dan ibu wali kelas 1 SDN 068083 Medan yang telah mengizinkan kami melakukan observasi dalam rangka pemenuhan tugas mata kuliah psikologi pendidikan. Terimakasih atas perhatiannya, semoga hasil observasi ini dapat meningkatkan pemahaman kita tentang psikologi pendidikan.
sumber tulisan:
jurnal psikologi perkembangan middle childhood (karakteristik siswa SD.pdf) oleh sugiyanto
Buku psikologi pendidikan edisi kedua John W. Santrock
Kelompok 11 :
Ketua : Novemina Angelita 131301028 http://13028na.blogspot.com
Anggota :
Maimunah 131301018 http://13018mm.blogspot.com
Siti Khalida Ilmi 131301062 http://13062ilmidl.blogspot.com
Indri Diani 131301128 http://13128id.blogspot.com